
Budaya siri’ na pacce yang menjadi slogan budaya dalam suku bugis-makassar harus menjadi patokan awal dalam setiap langkah dan tutur kata di tengah-tengah masyarakat suku bugis-makassar. Siri’ adalah bahasa makassar yang mempunyai arti sangat mendalam. Budaya siri’ yang bermakna bebas “malu” juga identik dengan harga diri seseorang, dalam hal ini seseorang pantang untuk dipermalukan dan mempermalukan. Kawin lari (eloping) yang terkadang ditemukan ditengah-tengah masyarakat bugis-makassar adalah sama dengan mempermalukan satu keluarga, dimasa lalu seseorang laki-laki yang kawin lari dan ditemukan oleh orang tua atau kelurga dekat sang perempuan mempunyai rasa siri, dan dalam adat suku makassar adalah hal yang wajar untuk mempermalukan sang laki-laki tersebut bahkan “membunuhnya”.
Selain itu diantara salah satu makna siri na pace yang sangat nampak adalah dalam menjamu seorang tamu yang bertandang kerumahnya. Meskipun hanya secangkir kopi pahit dan sepotong kue yang disuguhkan tujuannya demi menghormati sang tamu, sang tamupun harus mencicipi suguhan tersebut sebagai rasa hormat kepada tuan rumah. Bahkan terkadang sang pemilik rumah harus berhutang ke warung terdekat demi untuk menjamu tamu. Benarlah kata pepatah “Tamu adalah raja”.
“Dimana kaki berpijak disitu langit di junjung”. Penggalan peribahasa ini harus dipegang bagi setiap orang yang dianggap “asing” yang menginjakkan kakinya pada satu daerah yang baru pertama kali meskipun mereka datang dengan tujuan mulia untuk mengajarkan suatu pengetahuan yang berguna bagi keluarga dan masa depan anak cucunya di masa mendatang. Budaya “menghormati” kepada tokoh masyarakat atau tokoh adat sebaiknya dilakukan guna mendapatkan dukungan dari masyarakat setempat. Meskipun kerajaan-kerajaan dimasa silam sudah tidak ditemukan lagi, namun di daerah pedesaan adat dan kebiasaan seperti “pakkaraengang” di kalangan masyarakat suku makassar, gelar andi di suku bugis dan puang di suku mandar.
Selain pemikiran masyarakat yang relatif lebih sederhana dalam menilai dan memahami sesuau terkadang membuat pesan yang disampaikan lebih mudah untuk diterima dan akan lebih mudah lagi bila pesan-pesan itu telah dilaksanakan oleh sebagian orang yang berada di sekitar mereka. Hal ini bisa terjadi apabila orang tersebut dapat hadir dan ikut dalam diskusi atau pada saat penyampaian pesan yang dinginkan. Namun dilain sisi bila terjadi satu kesalahan yang meskipun itu kecil tapi suatu hal yang prinsipil di pemikiran mereka, maka citranya bisa menjadi buruk yang mengakibatkan penolakan terhadap pesan yang disampaikan, meskipun pesannya adalah pesan yang baik namun si pembawa pesan sudah melakukan suatu hal yang dianggap cacat.
Di lain pihak, masyarakat dengan pemikiran yang lebih sederhana akan selalu memberikan pembandingan yang lebih ekstrim terhadap siapa saja pembawa pesan yang mendatangi mereka. Pembandingan itu akan selalu disampaikan bila bertemu dengan sesama profesi mereka. Bila image yang ditimbulkan adalah image yang bagus maka nilai positif akan bertambah terus bagi si pembawa pesan namun apabila itu berdampak buruk, maka bisa berakibat fatal bagi profesinya untuk bisa memperluas pesan yang ingin disampaikan. Walaupun demikian tidak selamanya pembawa pesan yang melakukan kesalahan namun yang menjadi penentu juga adalah karakter si penerima pesan menjadi faktor penting.
Perbedaan sudut pandang kehidupan bagi masyarakat dalam menerima satu pesan sangatlah berpengaruh. Masyarakat dengan kegiatan sehari-harinya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, maka pemikiran mereka biasanya selalu membutuhkan pesan-pesan yang berkaitan dengan usaha yang bisa meningkatakn penghasilan dari sebelumnya. Sehingga mereka akan kurang memberikan perhatian terhadap pemikiran-pemikiran yang sifatnya lebih ke teoritis. Infomasi yang dibutuhkan adalah informasi yang sifatnya lebih teknis dan mudah diaplikasikan dengan biayan lebih murah. Informasi yang teoritis juga dibutuhkan harus diarahkan kepada pesan lebih aplikatif dan mudah dicerna yang bisa di dukung oleh fakta-fakta yang umum atau pernah terjadi di sekeliling mereka.
Tidak semua informasi bisa disampaikan secara serentak kepada masyarakat, oleh karena itu dibutuhkan satu hipotesa awal yang berisi informasi mengenai latar belakang “historical background” masyarakat tersebut terutama bila ada konflik-konflik diantara mereka mengenai kejadian atau program sebelumnya yang mempunyai kaitan dengan pesan yang akan disampaikan. Hal ini untuk mendukung program yang sedang dijalankan sehingga pesan yang disampaikan tidak memberikan dampak yang lebih buruk. Selain itu perlu menjadi catatan bahwa perbedaan pekerjaan bisa menjadi faktor utama dari cara pandang sesorang mengenai satu pesan yang baru. Petani ladang kering dan basah mempunyai lebih banyak kemiripan pola pikrinya begitu juga dengan petani rumput laut ataupun nelayan. Hal ini juga mempunyai kaitan dengan nasib pendidikan anak-anak mereka.
Tak jarang yang kita jumpai ketika berkunjung ke masyakat pesisir atau kepulauan, dengan anak di usia produktif sekolah sudah harus ikut dengan orang tuanya melaut untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Anak itu mungkin tidak melakukan kesalahan bahkan mempunyai niat baik untuk membantu keluarganya, namun disisi lain dia harus mengorbankan masa depannya yang masih panjang. Beda halnya dengan petani di sawah atau berladang, meskipun mereka harus membantu orangtuanya bekerja , namun masih mempunyai waktu yang luang untuk ke sekolah. Hal ini karena pekerjaan di laut seperti nelayan terkadang membutuhkan waktu yang berhari-hari.
Namun dengan adanya budidaya rumput laut yang telah berkembang dengan baik menjadi satu catatan yang bisa memberikan perubahan kearah yang lebih baik bagi masyarakat pesisir. Dan bisa diasumsikan bahwa bila agribisnis ini dikelolah dengan baik maka akan memberikan hasil yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan pertanian darat seperti padi-padian atau tanaman palawija lainnya. Pengelolaan yang baik termasuk di dalamnya perawatan yang intensif, pemilihan dan pengikatan bibit yang bagus, pemilihan lokasi yang pas dengan kebutuhan rumput laut untuk berkembang lebih cepat serta penanganan pasca panen yang tepat pula. Bila berjalan dengan baik maka dalam tempo 45 hari sudah bisa dipanen dan 3 hari pengolahan pasca panen maka bisa dikatakan dalam jangka 48 hari hasilnya sudah dapat dinikmati.
Salah satu kearifan yang dimiliki oleh masyarakat pantai atau nelayan adalah dapat memprediksi musim ombak dan angin. Dua hal ini memberikan pengaruh yang besar dalam budidaya rumput laut sehingga jika kearifan lokal ini dikawinkan dengan metode budidaya yang benar, makan akan memperkecil terjadinya resiko kehilangan akibat ombak dan angin yang besar di laut.