
Pulau Nain, telah lama dikenal sebagai salah satu sentra penghasil Rumput Laut Cottonii di Sulawesi Utara. Menurut pengalaman Marcel Taher salah seorang Eksportir Rumput Laut di Manado, beberapa tahun lalu, panen biasa dapat mencapai 300 ton cottonii kering perbulannya namun untuk saat ini pihaknya hanya bisa mendapat kurang dari 5 ton perbulan.
Fenomena penurunan produksi tersebut, disebabkan oleh adanya serangan penyakit ice-ice. Penyakit ini pertama kali muncul pada tahun 2002. Pangkal tanaman memutih dan hanya dalam selang beberapa jam tanaman menjadi rontok. Walaupun petani telah berulang kali mengganti bibit mereka dengan bibit yang baru, penyakit ini tetap saja muncul. Akibatnya, sebagian besar petani saat ini merasa putus asa dan enggan menanam jenis Cottonii karena hanya akan menuai kegagalan.
Hingga saat ini, penyebab munculnya penyakit ini masih menjadi tanda tanya besar. Sebagian kalangan berpendapat, munculnya penyakit ini kemungkinan disebabkan oleh penggunaan Potassium Sianida oleh Nelayan yang menangkap ikan-ikan karang disekitar perairan Nain. Sebagian lagi berspekulasi bahwa penyakit ini kemungkinan berhubungan dengan peningkatan buangan limbah rumah tangga penduduk di sekitar Pulau Nain yang memang belakangan ini jumlah penduduknya semakin meningkat.
Dugaan-dugaan tersebut, kemungkinan ada benarnya. Oleh karenanya, semua informasi yang berhubungan dengan hal tersebut tentunya menjadi asset yang berharga dalam penelitian ini untuk dapat mengungkap misteri penurunan produksi.
Menurut Dr. Grevo Gerung, M.Sc (Ketua Tim Peneliti dari Univ. Sam Ratulangi) yang juga seorang pakar Mariculture dan Phycology, penelitian ini nantinya akan terlebih dahulu mengungkap dan memahami pola musim tahunan dari tahun 1996 sampai dengan tahun 2005 dan melihat kemungkinan korelasi atau hubungan antara pola musim tersebut terhadap produksi rumput laut. Selain itu, akan dilakukan trial untuk pengukuran laju pertumbuhan tanaman selam 90 hari, identifikasi jenis – jenis epizoa dan epifit, pengambilan sampel air untuk pengukuran beberapa parameter kualitas air, dan interview sejumlah petani.
Penelitian ini akan dimulai pada minggu kedua Februari 2007 hingga June 2007, ditandai dengan pemasangan rakit-jaring sebagai media ujicoba kultivar. Jenis kultivar yang nantinya akan diujicobakan adalah jenis Tambalang, Saccol, Spinosum, dan jenis local untuk mendapatkan jenis tanaman yang paling tahan terhadap hama dan penyakit. Selain itu, tanaman akan ditanam pada 3 tingkatan kedalaman air yang berbeda yakni dipermukaan, 0.5 m, dan 1 m.
Gambar 1. Rancangan desain media kultivar menggunakan jaring untuk menghindari predator