
Perubahan pola pikir untuk menerima sesuatu hal yang baru dalam kebiasaan keseharian cukup sulit dilakukan bagi kebanyakan orang, khususnya bagi masyarakat pantai yang kegiatan sehari harinya mencari nafkah untuk memenuhi kebutyhan keluarganya. Demikian juga hal yang di alami oleh Pak Haeruddin Dg Ngolleng atau yang lebih akrab disapa Dg Ngolleng. Tertanggal 23 November 2005 dimana trial bibit maumere (Kappaphycus alvarezii) di uji cobakan di Bampang, Bulukumba. Dg Ngolleng adalah salah satu dari 25 orang yang ambil bagian dalam trial tersebut. Bibit 500 kg rumput laut yang diambil dari Mattoanging, Bantaeng di ujicobakan pada waktu itu.
Berbagai macam tanggapan yang yang dilontarkan oleh para petani. Hal ini karena ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi oleh para petani yang ingin ambil bagian dalam uji coba bibit tersebut. Diantaranya yaitu bibit yang di ikat dalam setiap loop nya adalah lebih besar dari bibit sebelumnya atau berkisar 100 gr sehingga dalam satu bentangan dengan panjang 25 depa, berkisar 25 meter.
Kebiasaan petani sebelumnya adalah memperkecil bibit dan memperbanyak jumlah bentangan. Berat bibit yang digunakan oleh petani sebelum di adakan trial adalah berkisar 10-30 gr dalam setiap loop-nya. Hal ini didasarkan oleh anggapan petani bahwa lebih banyak jumlah bentangan yang di kelola maka semakin banyak hasil panen yang akan di dapatkan. Pada umumnya petani kurang menganalisa bahwa semakin banyak volume bibit yang di tanam maka seharusnya semakin banyak hasil panen yang akan di dapatkan. Hal ini karena yang akan bertumbuh dan berkembang biak adalah bibit rumput laut yang ditanam dan bukan berdasarkan jumlah bentangannya.
Selain ketentuan berat bibit, para petani trial diharuskan berpartisipasi dalam penyediaan bentangan dengan jumlah 2 buah, dan bekerja mengikat secara berkelompok di tempat yang telah ditentukan bersama. Sesuai dengan kesepakatan, bibit didatangkan dan diujicobakan secara bersama-sama. Dg Ngolleng pada waktu itu mendapatkan bibit 17 kg. Beberapa respon dari petani yang terlibat trial tersebut adalah “bibitnya terlalu besar, sama seperti sudah waktunya rumput laut di panen”, “kebiasaan kita kan bibitnya tidak sebesar ini”.
Walaupun agak kurang percaya, beberapa petani mencoba mengikuti cara tersebut dan beberapa lagi diantaranya tetap mengikuti cara mereka sendiri. Sama halnya dengan apa yang di alami oleh Dg Ngolleng. Menurut penuturan dia bahwa pada saat pengikatan bibit bersama-sama, mereka berusaha untuk mengikat sesuai dengan prosedur yaitu mengikat bibit lebih besar dari sebelumnya namun keesokan harinya dia mengambil kembali bentangan yang sudah terpasang dan mengikatnya kembali dengan ikatan bibit yang lebh kecil lagi atau sama dengan berat bibit yang selama ini mereka lakukan.
Stigma ini di dasarkan pada pengalaman sebelumnya dengan bibit yang kecil saja. Tanggapan pertama yang dilontarkan petani 30 hari kemudian dalam pertemuan kelompok adalah pertumbuhannya kurang baik namun ada diantara mereka yang mengatakan pertumbuhannya baik sekali.
Petani yang mengatakan pertumbuhannya baik adalah Pak Rusli dan Abd Makin yang pada waktu itu memang sudah mengikat bibit dengan ikatan yang besar-besar namun petani yang tetap mengikat bibit dengan ukuran yang kecil maka tanggapan mereka adalah kurang baik pertumbuhannya. Sehingga dengan lesson learning oleh sesama petani ini menjadikan wadah yang baik untuk mengetahui metode yang baik dalam membudidayakan rumput laut terutama untuk ukuran bibit. Sehingga dianjurkan untuk penanaman selanjutnya maka bibitnya harus lebih besar lagi dari sebelumnya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
Berbagai macam rintangan yang dihadapi oleh petani salah satunya adalah ketika mereka sudah mengikat bibit yang lebih besar, ombak yang keras di bulan Januari 2006 menjadi faktor penghambat sehingga tanaman mereka banyak yang rusak. Namun hal ini tidak menyurutkan keinginan mereka untuk tetap mempertahankan bibit tersebut tetap tumbuh. Aktivitas pertemuan petani untuk menyepakati pemantuan perkembangan rumput laut tersebut dan cara yang harus dilakukan ketika diperkirakan datangnya ombak atau musim yang kurang baik dapat membantu.
Dari ke 25 petani, beberapa petani mampu mengatasi hambatan tersebut, termasuk Dg Ngolleng. Bapak ini yang dibantu oleh istri tercinta setiap pagi ketika matahari belum muncul dari peraduannya sudah turun ke laut untuk melakukan perawatan (TLC) jikalau ada suatu yang terjadi atau ada yang perlu untuk dibenahi di lokasi pembudidayaannya.
Dengan hanya bermodalkan perahu yang digerakkan oleh mesin kecil, diapun menyambut datangnya siang dengan ayunan ombak yang membuat dia terayung-ayung ke sana-sini diatas perahunya. Sepertinya dia tidak mau terkalahkan oleh datangya siang, perahu pun di laju cepat-cepat untuk bisa sampai pada tempat tujuannya. Sekitar jam 11 siang, Pak Haeruddin harus pulang kerumah untuk istirahat dan makan siang. Selanjutnya disore harinya bila ada bentangan yang rusak atau harus diperbaiki maka hal ini menjadi pekerjaan utamanya di sore hari.
Menurut penuturan beliau ketika mendapat kunjungan dari Prakarsa Inovative suatu program TV swasta yang di dukung oleh Global TV menuturkan bahwa ada 3 manfaat utama yang didasarkan setelah menanam rumput laut terutama bibit maumere ini yaitu, dia mampu membayar cicilan motornya setiap bulan, mampu memperbaiki rumahnya, dan bisa membayarkan biaya kedua anaknya disekolah.