A. Eucheuma Spinosum
Eucheuma spinosum atau lebih dikenal dengan spinosum atau pemburu merupakan salah satu sumber bahan baku yang sangat dibutuhkan industri pasta gigi dan makanan. Spinosum mengandung iota karaginan yang berfungsi sebagai bahan pengikat dan pengental pada pasta gigi yang diproses dengan kadar garam tinggi dan makanan berpasta. Tanpa iota karaginan, pasta gigi dan makanan berpasta tidak akan membentuk pasta yang bisa dinikmati lidah.
B. Pola Tanam Dan Peningkatan Produksi
Musim kemarau menyebabkan petani rumput laut menanam spinosum karena tahan terhadap panas, penyakit dan mudah berkembang biak dibandingkan jenis rumput laut lainnya. Meskipun harganya lebih rendah dibandingkan jenis rumput lainnya, petani menanam spinosum karena tidak ada pilihan lain sebagai sumber pendapatan keluarga selain bertanam rumput laut. Jika rumput laut jenis cottonii tidak bagus ditanam pada musim kemarau, sebagai penggantinya petani menanam spinosum.
Budidaya spinosum bersifat musiman karena permintaan pembeli tidak menentu dan pasarnya tidak jelas. Sampai saat ini belum ada industri pengolahan spinosum di Indonesia karena prosesnya dengan alcohol precipitation memerlukan biaya dan peralatan pengolahan yang sangat mahal.
Berdasarkan survey lokasi yang dilakukan SEAPlant.Net, dibeberapa tempat terjadi peningkatan produksi dan penyebaran spinosum yang nyata di daerah produksi rumput laut seperti Takalar, Janeponto, Bantaeng dan Bulukumba. Hal ini perlu mendapatkan perhatian karena petani spinosum hanya menikmati pendapatan dari spinosum yang bersifat sementara saja. Jika petani memaksakan diri untuk menanam spinosum sepanjang tahun, bisa dipastikan produksi spinosum akan melimpah akibatnya spinosum tidak dapat diserap oleh pasar.
C. Informasi Dan Daya Serap Pasar
Sesuai dengan hukum pasar, meningkatnya permintaan pembeli spinosum selalu diikuti dengan peningkatan harga. Berdasarkan pengalaman, tingkat harga ideal spinosum kering adalah Rp 1500 – 2000 per kg. Jika terjadi peningkatan harga tinggi atau ekstrim lebih dari Rp 2000 per kg, mengakibatkan ketidaknormalan harga pasar dan tidak menarik bagi pabrik pengolahan spinosum karena tingginya harga bahan baku akan menyebabkan harga jual iota karagenan lebih tinggi. Harga iota karagenan yang tinggi menyebabkan pembeli iota karagenan beralih ke bahan pengikat atau pengental lain seperti gum atau konjac.
Berdasarkan informasi pasar dunia, daya serap spinosum tidak lebih dari 25.000 ton per tahun. Pabrik pengolahan spinosum hanya membutuhkan 20.000 ton per tahun. Kebutuhan pasar tersebut telah dipasok oleh beberapa negara terutama dari Tanzania (12.000 ton), Philipina (8.000 ton). Jika petani Indonesia meningkatkan produksi spinosum lebih dari 5.000 ton per tahun maka akan terjadi kelebihan pasokan sehingga harga jatuh sampai titik terendah.
Informasi dan daya serap pasar dunia terhadap komoditi rumput laut sangat penting bagi petani untuk menghindari kerugian usaha. Ketidakmampuan petani dalam mendapatkan akses informasi dan daya serap pasar adalah suatu kelemahan yang berakibat pada kerugian petani. Kerugian besar petani rumput laut Indonesia pernah terjadi pada tahun 1991, dimana banyak petani menanam spinosum sehingga melimpah dan tidak dapat diserap pasar. Akibatnya harga spinosum terjun bebas karena tidak ada yang mau beli. Contoh lain terjadi pada rumput laut jenis Gracilaria. Kenaikan harga Gracilaria pada bulan April 2006 di tingkat harga Rp 5000 – 6000 per kg menyebabkan petani berlomba – lomba menanam Gracilaria dan tiga bulan kemudian harga jatuh pada tingkat harga Rp 1500 – 2500 per kg.
D. Masa Depan Petani Rumput Laut
Berdasarkan kondisi diatas, ada beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh petani rumput laut untuk mendapatkan kepastian usaha dan peningkatan pendapatan dari usaha rumput laut.
- Pengaturan Pola Tanam
Spinosum hanya ditanam pada musim kemarau sehingga petani rumput laut tidak kehilangan sumber pendapatan karena tidak dapat menanam cottonii. Budidaya spinosum tidak ditujukan untuk menggantikan cottonii yang tingkat harganya stabil dengan kepastian pasar yang jelas. Selain itu permintaan pasar cottonii dua kali lebih besar dibandingkan spinosum. Petani rumput laut juga harus berani membuat keputusan untuk tidak menanam rumput laut ketika musim tidak bersahabat pada bulan – bulan yang curah hujannya tinggi dan ada potensi terjadi banjir.
- Pengembangan Euchema cottonii
Pengembangan Euchema cottonii yang mempunyai kemampuan tumbuh atau dapat beradaptasi pada musim kemarau sangat penting. Jika petani rumput laut dapat menanam cottonii pada musim kemarau, mereka akan menikmati tingkat pendapatan yang lebih tinggi dari pada menanam spinosum. Tingkat harga cottonii kering rata – rata Rp 4000 – 5000 per kg dan lebih stabil dibandingkan jenis rumput laut yang lain.
- Pengembangan Pabrik Mini
Kerjasama dengan industri ataupun pihak terkait untuk membangun Pabrik Mini dengan teknologi tepat guna yang sederhana tanpa bahan kimia dapat memberikan nilai tambah komoditi rumput laut dan membuka lapangan kerja. Pabrik Mini mengolah rumput laut basah dengan proses penggilingan dan pengeringan dapat menghasilkan konsentrat karaginan dan nutrient solid yang dapat digunakan sebagai bahan baku industri pakan ternak, pangan dan pertanian.
Petani perlu mengetahui pola tanam, musim, teknologi tepat guna, informasi dan daya serap pasar untuk peningkatan usaha. Penerapan ketiga strategi diatas diharapkan dapat memberikan perbaikan tingkat pendapatan petani rumput sehingga tidak terjebak dengan “booming” komoditi rumput laut seperti spinosum yang suatu saat dapat mematikan usaha yang telah dirintis selama puluhan tahun.