A. Tinjauan Umum
Metode pengikatan atau penempelan yang mula-mula digunakan adalah metode "tie-tie“ dan pengisian dalam kantong. Tahun-tahun belakangan ini metode "Loop“ (baca:lup) atau jerat mulai menggantikan metode terdahulu; terutama di Indonesia.
Keuntungan dari sistem lup adalah berkurangnya kebutuhan tenaga kerja penanaman, mempermudah daur materi-materi penanaman dan membatasi jumlah raffia atau serat tali dari hasil panen.
Sedangkan metode kantong melindungi tanaman tapi berbiaya tinggi, sehingga penggunaannya cenderung disesuaikan dengan produksi bibit. Konfigurasi habitat yang dibangun terutama untuk tujuan komersil adalah sistem “terapung” dan lepas dasar. Metode terapung menggunakan cagak, rakit atau pelampung untuk menopang tali di dekat permukaan air laut. Metode off-bottom menggunakan cagak yang dipatok ke dalam dasar laut untuk menopang tali sedikit di atas permukaan dasar laut.
Beberapa keuntungan sistem terapung:
- Grazing (pemangkasan) oleh hewan yang hidup di dasar laut dapat dikurangi atau disingkirkan karena tanaman tidak lagi dapat dijangkau oleh bentik perumput (grazer).
- Tanaman yang berada dekat dengan permukaan kolom air umumnya sangat terpengaruh oleh pergerakan air. (mis. Pecahan ombak).
- Budidaya terapung dapat disiangi pada saat pasang apa pun, sedangkan untuk budidaya lepas dasar, untuk menyiangi tanaman sangat terbatas pada saat pasang.
- Budidaya terapung tidak terbatas hanya pada air dangkal.
Ada bermacam cara pengaturan tali yang dapat ditemukan di lahan pembudidayaan komersil. Efficacy konstruksi habitat dan teknik terutama ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan tapi dalam beberapa kasus kelihatannya didasarkan pada pengalaman ataupun pilihan petani sendiri.
B. Lebih Besar Seringkali lebih baik
Begitu strain bakal bibit ditentukan maka langkah-langkah kunci penanganan bibit adalah sebagai berikut:
- Pilih strain dari bibit yang akan dibudidayakan
- Ukuran bibit yang akan ditanam
- Umur dan/atau ukuran pada saat hasil tanam akan dipanen
- Jarak bibit pada dan dalam sistem habitat
Pemilihan dan pemotongan bibit yang akan ditanam kembali
Umumnya semakin besar bibit semakin banyak hasil panen. Batasan praktis terhadap ukuran bibit tergantung pada kondisi-kondisi lokal. Biasanya kehilangan tanaman karena patah akibat pergerakan air merupakan kendala utama.
Terdapat variasi yang besar antara lahan budidaya sehubungan dengan ukuran bibit saat menanam dan panen. Masa panen yang paling umum berkisar antara 40-50 hari.
Lebih panjang atau pendeknya siklus merupakan hal yang signifikan di beberapa tempat. Di beberapa daerah dilakukan “pemetikan" di mana bibit dibiarkan terikat pada tali selama berminggu-minggu dan tunas yang baru disingkirkan. Metode ini dapat menimbulkan masalah kualitas, karena terjadi percampuran antara tissu yang tua dengan yang baru, yang merupakan hal yang tidak diinginkan oleh beberapa pembeli.
Baca selanjutnya Pengelolaan Bibit Rumput Laut bagian 2.