
Pembangunan desa pesisir seringkali tertinggal karena lokasi yang terpencil dan jauh dari pusat pemerintahan. Desa pesisir dengan karakteristik sumber daya alam yang terbatas, tidak banyak pilihan mata pencaharian. Air bersih sebagai salah satu sumber daya alam dan kebutuhan dasar masyarakat seringkali sulit didapatkan karena sumbernya terbatas.
Masyarakat pesisir seperti di pulau Tanahkeke, Takalar - Sulawesi Selatan harus membeli air bersih untuk mandi, masak dan minum. Dilain tempat, misalnya di pulau Semau, Kupang - Nusa Tenggara Timur, masyarakat sulit mendapatkan air bersih karena kurangnya ketersediaan sumber air bersih di Pulau Semau dan letak lokasi yang jauh dari sumber air bersih. Masyarakat yang tinggal di pulau seperti Tanahkeke dan Semau harus menyeberangi lautan dan membeli air bersih atau tawar ke daratan.
Akses masyarakat pesisir terhadap sumber air bersih sangat terbatas. Infrastruktur penunjang dan distribusi air bersih tidak sampai ke wilayah pesisir atau pulau-pulau kecil yang tersebar di Indonesia. Usaha pemerintah untuk memberikan layanan air bersih di pesisir telah dilakukan seperti pembangunan Desalinator atau unit pengolahan air laut menjadi air tawar. Demikian juga dengan tangki dan bak penampungan air hujan. Kedua hal tersebut masih belum mencukupi kebutuhan air bersih masyarakat pesisir.
Puluhan bahkan ratusan milyar bantuan untuk pembangunan Desalinator tidak berarti karena penggantian filter dan pemeliharaan Desalinator tidak dilakukan dengan baik. Desalinator berhenti operasi ketika filter yang digunakan rusak atau tidak tersedia lagi. Pemeliharaan Desalinator juga sangat rumit bagi masyarakat pesisir meskipun sudah mendapatkan pelatihan teknis.
Apakah masyarakat pesisir masih punya kesempatan mendapatkan akses air bersih tanpa harus menyeberangi lautan dan membeli air tawar lagi ? Inovasi sangat diperlukan untuk membantu masyarakat pesisir mendapatkan air bersih yang mudah dan murah. Salah satu potensi sumber air bersih di wilayah pesisir adalah rumput laut.
Masyarakat pesisir yang membudidayakan rumput laut bisa mendapatkan air bersih dari pengeringan rumput laut melalui pengeringan rumput laut dengan model "solar tunnel drying" atau pengeringan matahari dengan menempatkan rumput laut dalam kolom atau ruang berbentuk terowongan yang dirancang untuk menguapkan air yang terkandung dalam rumput laut. Air yang menguap dan terperangkap dalam ruang pengeringan dialirkan kedalam bak penampung dan bisa digunakan sebagai air bersih.
Kadar air rumput laut segar sekitar 90-95%. Penguapan air 55 - 60% untuk mendapatkan rumput laut kering dengan kadar 35% membantu masyarakat pesisir mendapatkan sumber air bersih untuk masak dan minum.
Daerah seperti pulau Tanahkeke diperkirakan mampu menghasilkan rumput laut kering sekitar 1.000 ton yang setara 7.000 ton basah dalam sebulan. Artinya ada 6.000 ton atau 6.000.000 liter air bersih perbulan yang diuapkan dari pengeringan rumput laut.
Jika dihitung dengan minimal kebutuhan dasar manusia terhadap air bersih yang ditetapkan Unesco sebesar 60 liter/orang/hari maka ada sekitar 3.300 orang yang bisa mendapatkan air bersih untuk keperluan hidupnya dari proses pengeringan rumput laut 7.000 ton per bulan. Selain memberi manfaat berupa air bersih, tentunya kualitas rumput laut yang dikeringkan juga meningkat karena pengeringan " solar tunnel drying" tertutup sehingga rumput laut tidak terkena kotoran.