
Naik turunnya harga merupakan hal biasa dalam perdagangan rumput laut khususnya cottonii kering. Selama sepuluh tahun terakhir, gejolak harga cottonii terjadi. Pernah terjadi sekali krisis cottonii yang mengguncang industri rumput laut, ketika harga cottonii kering harganya Rp. 18.000 - 20.000 per kg ditingkat petani pada bulan Oltober - November tahun 2008.
Berbagai kajian dilakukan mulai dari permintaan yang melonjak tajam dan pembelian besar-besaran dari Cina yang berebut cottonii kering sampai ke desa. Saat itu, beberapa kontainer mudah ditemui di area produksi cottonii. Pembeli langsung bertransaksi dengan petani dan menampung hasil pembelian ke kontainer meskipun kualitas cottonii kering dibawah standar mutu. Hal seperti ini tentu saja merusak bisnis rumput laut dan tidak boleh terjadi lagi.
Harga cottonii yang tinggi mengakibatkan pabrik tidak mampu beroperasi karena harga bahan baku terlalu tinggi tidak diikuti dengan peningkatan harga hasil olahan. Ada sesuatu yang harus dibenahi dari krisis cottonii. Pemerintah dan asosiasi memberikan persyaratan pelaku usaha rumput laut mempunyai izin usaha perdagangan. Selain itu juga ada persyaratan ekspor yang ketat untuk ekspor rumput laut kering, misalnya penetapan Standar Nasional Indonesia (SNI) Rumput Laut Kering yang diharapkan bisa meningkatkan kualitas.
Pelaku usaha rumput 2 tahun terakhir mengalami tantangan ketika harga cottonii kering dan hasil olahannya berada di titik terbawah. Sepuluh tahun yang lalu, harga cottonii kering sekitar Rp. 5.000 - 6.000 per kg ditingkat petani. Tahun 2015, terjadi penurunan harga cottonii kering yang mendekati harga 10 tahun lalu dengan kisaran Rp. 6.000 - 7.000 per kg ditingkat petani. Nilai uang yang diterima petani dengan harga tersebut jelas berkurang karena tergerus inflasi sekitar 6% pertahun selama 10 tahun terakhir. Akibatnya daya beli petani berkurang. Beberapa petani beralih profesi ke sektor informal di kota ketika harga menyentuh setengah dolar per kg. Nilai tukar dolar yang menguat antara Rp. 13.000 - 14.000 perdolar tidak mengangkat harga cottonii kering seperti yang diharapkan petani.
Tidak hanya petani yang merasakan hal tersebut. Perubahan harga akan berdampak langsung terhadap semua pelaku usaha. Pabrik olahan rumput laut saat ini juga merasakan dampaknya ketika harga ATC, SRC dan RC mengalami penurunan. Selain itu, pabrik juga akan merasakan dampak langsung ketika harga cottonii kering naik dan menyentuh nilai satu dolar per kg. Bagaimana dengan perkembangan harga cottonii kering tahun ini?
Melihat perkembangan harga cottonii 10 tahun terakhir dan kondisi fluktuasi harga cottonii kering setahun terakhir, kuat atau lemahnya nilai tukar dolar terhadap rupiah tidak berpengaruh lagi terhadap fluktuasi harga cottonii kering. Hukum permintaan dan penawaran menjadi faktor utama fluktuasi harga cottonii. Krisis ekonomi China, menjadi penyebab utama karena kemampuan membeli melemah sehingga permintaan cottonii kering berkurang. Produksi cottonii Indonesia dan Filipina yang lebih tinggi dari tahun sebelumnya menambah jumlah ketersediaan cottonii kering sehingga harga jatuh ke titik terendah.
Selain itu harga minyak bumi juga mempengaruhi harga komoditi, termasuk cottonii kering. Tahun 2008 ketika harga cottonii kering mencapai kisaran Rp. 18.000 - 20.000 per kg ditingkat petani, harga minyak bumi mencapai USD 150 per barel. Bandingkan dengan tahun 2015 ketika harga minyak bumi turun di harga USD 30 per barel, akibatnya harga cottonii kering ikut jatuh pada kisaran harga Rp. 6.000 - 7.000 per kg ditingkat petani.
Dengan jatuhnya harga minyak bumi, harga cottonii kering diperkirakan tidak akan mengalami fluktuasi yang tajam seperti tahun 2008 dan 2013. Harga cottonii kering di tingkat petani akan berkisar stabil di harga Rp. 7.000 - 10.000 per kg. Sebagai pembeli terbesar cottonii kering Indonesia, perilaku pembeli dari China tetap akan mempengaruhi fluktuasi harga cottonii tahun ini. Demikian juga jika terjadi gagal panen karena pengaruh musim kering yang lebih lama serta badai taifun, bencana taifun yang sering terjadi di Filipina bisa berakibat naiknya harga ekspor cottonii kering di atas USD 1.000 per ton karena pembeli dari Filipina akan bersaing dengan China untuk mendapatkan cottonii kering Indonesia.
Fluktuasi harga cottonii kering bagi petani rumput laut dan masyarakat pesisir yang mata pencaharian utamanya budidaya rumput laut berdampak sangat keras sekali. Penurunan harga cottonii kering dibawah setengah dolar bisa menyebabkan petani meninggalkan usahanya dan beralih ke usaha lain yang memberikan pendapatan lebih baik. Namun demikian petani rumput laut yang punya jiwa wirausaha tidak akan pernah meninggalkan usahanya karena fluktuasi harga adalah hal yang biasa bagi mereka.
Petani bermental wirausaha akan terus menanam dan mengembangkan usahanya sehingga memberikan kesempatan kerja bagi keluarga dan masyarakat pesisir sekitarnya. Siapa yang terus menanam pasti akan mengetam dan mendapatkan hasil dari usahanya.