
Temu member Jasuda ke 6 telah memberi kesempatan bagi member dan pelaku usaha, peneliti, akademisi dan lembaga swadaya masyarakat untuk berdiskusi tentang "Masa Depan Industri Rumput Laut Indonesia". Pertemuan yang berlangsung 14 Januari di Singgasana Hotel, Makassar membahas beberapa materi yang menarik diantaranya "Perkembangan Produksi, Permintaan Pasar Dunia dan Perkembangan Harga tahun 2016". Selain itu juga tantangan penanganan limbah industri dan kompetisi dengan Cina yang mendominasi pasar dan dipercaya bisa memainkan harga bahan baku dan hasil olahan rumput laut.
Temu member Jasuda mendapatkan tanggapan yang positif dari member, bermanfaat untuk saling mengenal dan memberi peluang kerjasama dalam pengembangan usaha rumput laut. Member Jasuda datang dari Rote, Bali, Jakarta, Surabaya, Probolinggo, Palu, Pangkep, dan Makassar mempunyai kesempatan untuk memperkenalkan usahanya dan terjalin komunikasi bisnis antar member. Jasuda juga memberikan peluang kerjasama untuk pengembangan usaha bagi member yang tertarik mengembangkan produk olahan dengan inovasi sehingga menghasilkan nilai tambah.
Berbicara tentang masa depan rumput laut serta daya saing pelaku industri rumput laut tentunya tidak bisa lepas dari inovasi. Perkembangan industri selalu dilandasi dengan inovasi, termasuk industri rumput laut juga sangat membutuhkan inovasi. Beberapa tantangan yang dihadapi pabrik diantaranya inovasi pengolahan limbah industri rumput laut serta perbaikan kualitas dan efisiensi produksi. Tanpa inovasi industri rumput laut akan mati. Masa depan industri rumput laut akan seperti industri rotan jika tidak melakukan inovasi.
Salah satu contoh yang memerlukan inovasi dalam pengolahan rumput laut adalah penggunaan air. Proses utama dalam pengolahan rumput laut memerlukan sumber daya air. Semua pabrik yang mengolah rumput laut memerlukan sumber air dalam jumlah yang besar untuk pencucian dan pemasakan. Berdasarkan kajian dan pengalaman di lapangan, pabrik pengolahan rumput laut kering dengan kapasitas 1.000 ton ATC atau 960 ton SRC per tahun memerlukan kurang lebih 86.400 M3 air yang nilainya sekitar USD 864.000.
Kebutuhan air seringkali tidak diperhitungkan dalam pendirian pabrik rumput laut. Akibatnya pabrik berhenti beroperasi karena sumber air tidak mencukupi. Ada beberapa pabrik rumput laut di Gorontalo, Janeponto, Bulukumba, Saumlaki dan Bali yang didirikan dan dikelola oleh Pemerintah Daerah tidak mempertimbangkan ketersediaan sumber air sehingga berhenti beroperasi.
Air dalam industri rumput laut seringkali diabaikan dan tidak diperhitungkan nilai rupiahnya. Jika ada inovasi baru pengolahan rumput laut tanpa atau dengan sedikit air tentunya bisa dilakukan penghematan biaya produksi. Selain itu tentunya diperlukan usaha untuk menjaga kelestarian sumber air yang ada di sekitar pabrik dengan penghijauan atau penerapan "Green Industry".
Dengan penghematan pemakaian air, industri rumput laut Indonesia lebih kompetitif. Selain itu juga diperlukan penghematan energi untuk mengeringkan rumput laut setelah proses pencucian sampai memenuhi persyaratan ambang batas residu alkali. Teknologi proses, riset dan inovasi yang bisa menghemat air dan energi dalam pengolahan rumput laut sangat penting sekali.
Ada baiknya melihat kembali rantai nilai rumput laut dari hulu ke hilir dan melakukan identifikasi serta riset serta penerapan inovasi sederhana yang bisa memberikan dampak utama untuk mengurangi biaya produksi.
Beberapa hal ini bisa menjadi sumber inovasi dari hulu ke hilir sehingga industri rumput laut Indonesia punya daya saing tinggi.
1. Pengembangan bibit unggul rumput laut melalui "Clone Selection"
2. Teknik budidaya dengan metode "Tube Net"
3. Teknik pengeringan dengan jemur gantung dan "Solar Drier"
4. Teknik sortasi kotoran atau "impurity" dengan "Sieve Shaker"
5. "Wet Processing" teknologi untuk penghematan air dan energi dalam pengolahan rumput laut
6. "Integrated Quality and Food Safety System" untuk jaminan kualitas dan keamanan produk
7. "Social Impact and Green Environment Business Model" untuk keberlanjutan bisnis
Tujuh kunci inovasi tersebut sudah dikembangkan peneliti dan pelaku usaha rumput laut. Hal yang paling penting untuk tahap berikutnya adalah pengembangan skala yang lebih luas dan penerapannya dikelola secara profesional sehingga mampu meningkatkan daya saing industri rumput laut Indonesia.
Masa depan industri rumput laut masih cerah selama pelaku usaha mau berubah dan mengikuti perkembangan pasar serta kebutuhan konsumen. Beberapa pembeli dari luar negeri seperti Eropa dan Amerika mulai melihat pentingnya dampak sosial dan lingkungan dari sebuah usaha rumput laut. Kualitas dan keamanan produknya termasuk "traceability" dimana produk yang dihasilkan mampu ditelusuri asalnya dari hulu ke hilir sampai ditangan konsumen.
Kualitas dan keamanan produk sudah menjadi persyaratan utama yang wajib dipenuhi pelaku usaha rumput laut yang produk akhirnya untuk kebutuhan industri pangan. Selain itu, usaha atau bisnis rumput laut masa depan juga dapat memberikan dampak positif terhadap komunitas dimana kegiatan usaha tersebut beroperasi dan ramah lingkungan. Hal tersebut dapat memberikan nilai tambah dan posisi tawar yang kuat bagi industri rumput laut Indonesia.
Sebagai penghasil bahan baku berupa rumput laut tropis, pelaku industri atau pabrik olahan rumput laut Indonesia akan lebih mudah menjalin relasi dengan komunitas pesisir serta mengembangkan bisnis yang ramah lingkungan. Kompetitor utama seperti Cina hanya mampu membeli bahan baku saja, kecuali kalau sudah mendirikan pabrik di Indonesia.
Semoga keunggulan komparatif ini bisa menjadi keunggulan kompetitif sehingga Indonesia mampu berkompetisi dengan Cina. Inovasi akan membuka jalan industri rumput laut Indonesia menjadi penguasa pasar rumput laut dunia.