
Melihat kembali perkembangan rumput laut Indonesia selama 10 tahun terakhir, ada satu hal yang sangat menarik untuk dikaji ketika harapan dengan realita tidak sama. Peningkatan produksi rumput laut Indonesia sangat fenomenal, namun tidak diikuti dengan peningkatan daya saing industri rumput laut nasional. Penetrasi pasar dan daya tawar rumput laut Indonesia masih lemah dimana dominasi Cina sangat kuat yang diyakini dapat menentukan harga rumput laut kering Indonesia.
Ada beberapa hal yang perlu dibenahi dengan melihat kondisi tersebut. Diantaranya bisa dilihat kembali industrialisasi rumput laut untuk mengolah 50% bahan baku didalam negeri, rencana kebijakan pengurangan ekspor bahan baku rumput laut serta pola pengembangan kluster rumput laut yang sudah diterapkan di sentra produksi. Ketiga hal tersebut masih belum menjawab permasalahan utama yang dihadapi pelaku usaha rumput laut dimana kualitas, kuantitas dan kontinuitas pasokan rumput laut masih menjadi kendala yang sering dihadapi bersama. Selain itu juga belum munculnya inovasi untuk memberikan nilai tambah rumput laut menjadi hasil olahan yang dibutuhkan pembeli baik dari dalam maupun luar negeri.
Untuk melihat masa depan industri rumput laut ada baiknya bercermin pada kebutuhan pelanggan atau pasar. Sampai akhir tahun 2015, pelaku industry masih mengandalkan ATC, SRC dan RC sebagai produk utama hasil olahan rumput laut. Pasar dan kebutuhan produk tersebut meskipun tumbuh sekitar 2-4% pertahun selama 15 tahun terakhir belum memberikan manfaat langsung bagi industri rumput laut Indonesia. Salah satu masalah yang dihadapi pelaku industri terutama pabrik pengolah rumput laut adalah lemahnya kemampuan bersaing di pasar Internasional, terutama terkait dengan harga dan kualitas. Produk ATC, SRC dan RC dengan kualitas sama dari Cina, harganya lebih murah di pasar internasional.
Sebagai penghasil rumput laut tropis terbesar dunia, industri rumput laut Indonesia tentunya harus berbenah. Untuk bisa bersaing dengan Cina, efisiensi produksi dan peningkatan kualitas tidak bisa ditawar lagi. Efisiensi dan perbaikan berkelanjutan disetiap tahapan proses untuk peningkatan kualitas bisa dilakukan dengan membenahi ujung tombak industry rumput laut yaitu pabrik pengolah rumput laut, tentunya dengan dukungan multipihak sebagai berikut :
1. Lembaga Riset yang membantu industri mengembangkan proses yang efisien untuk menghasilkan produk berkualitas serta produk inovatif siap konsumsi yang dibutuhkan pasar.
2. Kebijakan Pemerintah untuk mendorong iklim yang lebih baik bagi pabrik pengolah rumput laut untuk berkembang dengan kredit lunak dan keringanan pajak.
3. Promosi produk rumput laut Indonesia di dalam dan luar negeri dengan mempertemukan produsen dan potensial buyer atau pembeli dari dalam dan luar negeri.
4. Pengolahan limbah industri rumput laut menjadi produk bernilai tambah, misalnya untuk pupuk tanaman yang dibutuhkan oleh industri pertanian dan perkebunan di dalam negeri.
5. Integrasi pasokan rumput laut dari hulu ke hilir melalui kerjasama yang saling menguntungkan antara produsen rumput laut dan pabrik pengolah rumput laut.
6. Pemenuhan persyaratan dan standar produk yang diminta pembeli di pasar lokal dan internasional terkait dengan standar kualitas, keamanan pangan dan "traceability" produk.
Enam hal tersebut bisa memberikan dampak langsung yang menguntungkan bagi pelaku usaha rumput laut dan menaikkan daya saing industri rumput laut di tingkat internasional. Semua pelaku usaha bisa bekerjasama, bersinergi dan kolaborasi dengan dukungan kebijakan Pemerintah yang memacu perkembangan usaha rumput laut Indonesia.
Sebagai penghasil bahan baku atau rumput laut tropis terbesar dunia, sudah semestinya Indonesia bisa bersaing dengan Cina yang mengandalkan sumber bahan baku berupa rumput laut kering dari Indonesia. Semoga bisa diwujudkan demi masa depan industri rumput laut Indonesia yang lebih baik.