
JAKARTA: Indonesia diperkirakan akan menguasai 31% pangsa pasar rumput laut (eucheuma dan gracilaria) dunia pada 2007.
Sampai dengan 2010, kontribusi Indonesia akan terus meningkat meski tidak terlalu menonjol. "Pada 2008, diprediksikan kontribusi Indonesia yaitu sekitar 32%, 2009 sekitar 34% dan 2010 sekitar 35%," kata anggota tim rumput laut Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi Achmad Zatnika di Jakarta, kemarin.
Sedangkan untuk produk olahan rumput laut yaitu karaginan, Indonesia mampu menguasai pasar dunia sekitar 13% pada 2007, pada 2008 sekitar 13,7%, 2009 sekitar 14% dan 2010 sekitar 15%.
Menurut dia, dengan potensi yang dimiliki Indonesia, seharusnya kontribusi karaginan dan rumput laut nasional di pasar dunia dapat ditingkatkan. Namun, kendala yang dialami adalah
standardisasi mutu dan keterampilan petani rumput laut.
Karena permintaan rumput laut sebagai bahan baku sangat tinggi, kata dia, petani tidak lagi mengutamakan mutu rumput laut. Rumput laut yang berkualitas adalah yang dipanen pada usia 45 hari. "Tetapi akibat permintaan yang luar biasa dari para pengumpul, mereka memanen lebih awal," katanya.
Dia juga mengatakan kendala yang dihadapi adalah transfer teknologi yang sulit dan permodalan. Penguasaan teknologi kurang, sehingga yang diperdagangkan petani hanya bahan baku dan bukan produk olahan. Adakalanya, kata dia, petani tidak memperhatikan pengolahan rumput laut yang paling dasar yaitu penjemuran dan tidak memerhatikan kemauan pasar.
Selain itu, petani rumput laut serta usaha mikro, kecil dan menegah (UMKM) masih kesulitan modal. "Mereka tidak memiliki jaminan untuk mengajukan kredit ke bank."
Jika masalah tersebut mampu diatasi, kata dia, maka rumput laut dan produk olahannya dapat menjadi produk unggulan Indonesia dan mampu bersaing dengan pasar luar negeri. Jumlah keseluruhan lahan potensi rumput laut yaitu sekitar 11.500 hektare.
Direktur Usaha dan Investasi Ditjen Pengolahan dan Pemasaran hasil Perikanan Stafril Fauzi mengatakan volume ekspor rumput laut selama 2000-2004 naik sebesar 19,83% dan perolehan devisa pada 2004 yaitu US$6,2 juta. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2004, volume ekspor rumput laut sekitar 50.000 ton dengan nilai sekitar US$24,3 juta dolar.
Sedangkan ekspor agar-agar pada 2004 yaitu 3.000 ton senilai US$6,2 juta dan ekspor alginate yaitu 6,2 kilogram senilai US$14.000. Negara produsen rumput laut antara lain Filipina, Malaysia, Jepang, AS, Kanada, Eropa, India, Cile.