
Angin bertiup kencang, puncak gelombang kelihatan memutih dihambur terpaan angin, dan pasir pun beterbangan menerpa wajah petani rumput laut yang berlarian ke pantai bergegas mengambil sampan-sampan mereka dan mengayuh sekuat-kuatnya kearah pemeliharaan rumput laut sekitar 500 meter dari garis pantai. Mereka secepatnya memanen rumput laut yang sedianya di panen 1 minggu lagi, sebelum gelombang merontokkan seluruh rumput laut dari tali gantungannya. Dan hanya mempertahankan bibit rumput laut yang baru dipasang beberapa waktu lalu, dengan cara menambah jangkar dan tali penguat bentangan serta sedikit merenggangkan tali-talinya agar lentur oleh gerakan naik-turun serta gulungan ombak.
Menurut Pak Samad dan Pak Jabbar (Petani rumput laut dusun Mattoanging), pemandangan ini biasa terjadi pada saat tertentu dimusim Barat dan pada awal musim Timur seperti sekarang ini. Biasanya angina akan bertiup kencang selama 7 hingga 10 hari, dan hampir mengenai seluruh pantai di Kecamatan Bissapu-Bantaeng hingga ke pesisir Jeneponto dan Kepulauan Tanakeke serta sebagian pantai Takalar. Kecuali pantai di sekitar Tanaberu-Bontobahari, Bulukumba yang sedikit membelok kearah Timur.
Pada kondisi ini biasanya hasil panen rumput laut akan menurun karena petani malas memasang bibit baru. Usaha yang dilakukan hanya berusaha mempertahankan bibit yang sudah terpasang dengan melenturkan tali bentangan, memperbanyak jangkar pasir, memperpanjang tali jangkar, mengecilkan ukuran bibit, mengurangi jumlah pelampung botol. Ada juga petani yang membuat kotak penampungan bibit dari jaring yang dipasang dekat pantai serta merubah arah dan letak kotak tali bentangan tempat pemeliharaan rumput laut dengan posisi sedikit serong dari arah datangnya gelombang.
Sebenarnya gelombang yang terjadi oleh angina saat itu tidak mencapai tinggi gelombang 1 meter, akan tetapi kekuatan hempasan dan goyangannya sudah lebih dari cukup untuk melepaskan rumput laut yang sudah akan dipanen dari ikatannya. (iv)