
Rumput laut E. cottonii sedemikian berkembang sangat cepat di Kabupaten Nunukan, khususnya di kawasan Pulau Nunukan dan Pulau Sebatik. Di introspeksi dari Sulawesi Selatan oleh beberapa nelayan di Nunukan dan Sebatik pada pertengahan tahun 2008, atau sekitar 7 tahun yang lalu.
Di pertengahan tahun 2015 yang lalu angka produksi hasil kerja keras seluruh petani dan nelayan sudah mencapai hampir 3.000 ton rumput laut kering per bulannya. Seluruh hasil tersebut dikirim ke luar daerah seperti Makassar, Surabaya maupun Tawau Malaysia. Selanjutnya sebagian besar diekspor ke luar negeri seperti China dan Philipina dan sebagian kecil sekitar 20% untuk diolah di pabrikan di dalam negeri.
Namun sejak bulan September, Oktober dan awal November ini keadaannya menjadi lesu. Harga di tingkat eksportir turun, bahkan sedang menghentikan pembelian karena China belum melakukan kontrak yang baru. Sehingga pasar jadi lesu, harga menurun, aktivitas usaha rumput laut di Nunukan menurun sekitar 40%. Namun untungnya pabrikan masih tetap melakukan pembelian meskipun jumlahnya juga tidak terlalu besar. Jika selama ini bangsanya sekitar 25%, naik dua kali lipat menjadi sekitar 50% dari seluruh produksi di Kabupaten Nunukan ini. Mereka memborong dikala harga sedang turun seperti ini.
Inilah yang mendorong kami dari ArenFoundation divisi AlgaFood untuk mengolah rumput laut di Nunukan ini menjadi produk olahan Edible Cottonii. Edible Cottonii adalah olahan rumput laut E. Cottonii untuk makanan dan minuman yang siap konsumsi dan siap saji serta praktis atau instan.
Hal ini didorong dari kenyataan dimana justru masyarakat Nunukan yang setiap hari bergelut akrab dengan rumput laut, tetapi justru belum menjadikan sebagai budaya untuk makanan dan minuman sehari-hari. Padahal kandungan gizi, manfaat dan khasiat rumput laut demikian unggul dan mahal harganya. Tetapi sangat mengherankan jika masyarakat belum memanfaatkannya.
Ternyata di Pulau Jawa rumput laut sudah lebih akrab menjadi minuman yang banyak dijual di pinggir jalan. Es buah rumput laut sangat populer dan merupakan minuman yang segar dan menyehatkan yang siap sedia meskipun rumput laut tidak banyak ditanam di sana. Oleh karena itu harga dalam bentuk olahan juga berbeda jauh dibandingkan harga mentahnya.
Rumput laut yang baru dipanen dari laut tentu saja masih berasa asin dan amis, dengan warna yang asli, bisa hijau, coklat atau sedikit merah kegelapan. Untuk layak menjadi bisa dimakan (Edible Cottonii) maka harus diolah untuk menjadi berasa tawar berwarna bening dan beraroma menarik.
Edible Cottonii dalam bentuk kering yang sudah dikemas bagus dibandrol dengan harga Rp 50.000 untuk berat sekitar 400 gram. Dalam keadaan basah Edible Cottonii dijual dengan harga Rp 15.000 per kilogram.
Dengan tersedianya Edible Cottonii dalam bentuk kering maupun basah, akan sangat memudahkan siapa saja yang akan memasak, menyajikan rumput laut dalam makanan dan minumannya. Misalnya untuk membuat Jus Rumput Laut, Jus Buah dan Sayur Rumput Laut, Nasi Rumput Laut, Jelly Drink Rumput Laut, Salad Rumput Laut, Tepung Bumbu Rumput Laut, Keripik atau Kerupuk Rumput Laut, Mie Rumput Laut, Dodol Rumput Laut, dan lain-lain.
Bisa dikatakan bahwa sebelum rumput laut diolah menjadi aneka makanan dan minuman, maka rumput laut harus disiapkan dalam keadaan yang tawar, tidak asin, tidak amis dan berwarna netral. Itulah yang kami sebut sebagai Edible Cottonii atau Rumput Laut siap untuk makanan dan minuman.
Edible Cottonii produksi AlgaFood ini diproses dengan memenuhi cara pengolahan makanan dan minuman yang baik, higienis dan aman bagi kesehatan.