
NUNUKAN – Jatuhnya harga rumput laut hingga menyentuh Rp 6 ribu per kilogram (kg) tampaknya terus berlanjut. Bahkan bakal bertahan hingga dua bulan kedepan sampai ada pergerakan dari konsumen rumput laut dunia yang mengincar pasar Indonesia.
“Akhir-akhir ini harga memang merosot atau turun karena pengaruh dari perdagangan dunia,” ujar Dian Kusumanto kepada awak media ini saat ditemui, kemarin.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Nunukan ini mengatakan, sepinya perdagangan global rumput laut saat ini ditengarai belum adanya kontrak dari sejumlah pembeli yang berasal dari negara konsumen terbesar rumput laut tersebut, seperti Cina, Jepang dan Korea Selatan.
Menurutnya, dalam beberapa minggu kedepan bakal ada pergerakan dari konsumen atau pembeli tersebut yang dapat memacu perubahan harga rumput laut di Nunukan. Selain eksportir belum kebanjiran pesanan dari sejumlah negara itu, jatuhnya harga rumput laut juga dipengaruhi masih banyaknya stok yang tersedia di eksportir utama Indonesia di Makassar dan Surabaya yang selama ini menjadi penampung rumput laut asal Nunukan.
“Jadi, masih menunggu masa kontrak itu terjadi dan pengiriman yang ada di gudang juga terjadi. Setelah itu baru ada perubahan, saya perkirakan paling lama dua bulan ada pergerakan harga yang bagus,” jelas Dian kepada pewarta.
Ia juga mengungkapkan, beberapa daerah di Indonesia yang memproduksi rumput laut sedang bermasalah dengan produktifitas rumput laut yang dihasilkan. Dengan begitu, Nunukan yang selalu produktif memproduksi rumput laut akan menjadi serbuan para pedagang dari luar daerah.
“Saya kira mereka akan bersaing memperebutkan pasar yang ada di Nunukan. Jadi, paling lama itu dua bulan,” imbuhnya.
“Makanya, petani kami imbau agar petani yang memiliki stok untuk ditahan produksinya. Dan dikeluarkan untuk sekadar mencukup kebutuhan saja,” sambungnya.
Strategi yang dilakukan pihaknya itu kepada petani agar harga dapat kembali stabil dan dihargai cukup tinggi dibandingkan harga saat ini. “Harus ada strategi dan melihat peta perkembangan rumput laut dunia. Tahun lalu harga rumput laut tinggi karena Filipina baru pulih setelah dihantam badai yang membuat gagal panen. Makanya harga cukup tinggi,” tuturnya. (eza/oya)