
KUPANG, Kelompok nelayan rumput laut di kawasan Bolok, Kabupaten Kupang, mengeluh kepada Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Dr. Ir. Dwisuryo Indroyono Soesilo, M.Sc, perihal pengembangan usaha mereka.
Para nelayan yang mengembangkan rumput laut sejak tahun 2000, meminta pemerintah menyediakan pabrik rumput laut di kawasan ini, sehingga membantu mereka dalam proses pengeringan sebelum dikirim keluar NTT berupa barang setengah jadi.
"Harga jual di Surabaya Rp 30.000/kilogram. Kalau sudah ada pabrik di Bolok, hasil rumput laut bisa setengah jadi dan kita pasarkan keluar NTT. Kami sangat butuh pabrik rumput laut pak menteri. Kami juga minta diberikan sampan untuk mengangkut hasil dari laut ke darat," pinta Ketua Dusun I Desa Bolok, Anton Tabun, kepada Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman, Dr. Ir. Dwisuryo Indroyono Soesilo, M.Sc, ketika meninjau lokasi pengembangan rumput laut di Pantai Bolok, Sabtu (20/6/2015).
Anton mengharapkan agar pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi NTT membangun pabrik rumput laut di kawasan pengembangan rumput laut di Bolok. Selama ini, lanjut Anton, proses pengeringan rumput laut dengan cara tradisional, jemur di panas matahari. Ketika sudah kering, demikian Anton, para calon pembeli mematok harga sendiri, sehingga petani tidak dapat berbuat banyak.
Dalam kunjungan itu, Menko Bidang Kemaritiman, Dwisuryo Indroyono Soesilo, didampingi Wakil Gubernur NTT, Drs. Benny Litelnoni, M.Si; Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTT, Drs. Abraham Maulaka; Kepala Biro Administrasi Pembangunan Setda NTT, Ir. Ferdi J Kapitan, M.Si, dan beberapa pejabat dari Kementerian Bidang Kemaritiman.
Permintan untuk membangun pabrik rumput laut juga disampaikan oleh Kepala Desa Bolok, Moses Natun. Moses menuturkan, pengembangan rumput laut di Bolok sejak tahun 2000.
Para petani yang selama ini menggarap lahan pertanian dengan kondisi topografi yang kurang menguntungkan, demikian Moses, sudah beralih membudidaya rumput laut. Pasalnya, potensi rumput laut mudah dikembangkan untuk mendukung ekonomi rumah tangga.
Namun, kata Moses, usaha rumput laut masih bersifat tradisional, di mana petani nelayan mengambil rumput laut dari pantai, mengeringkannya dengan memanfaatkan wadah seadanya.
Untuk itu, demikian Moses, kelompok pengembangan rumput laut mengharapkan pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi NTT untuk membangun pabrik rumput laut di kawasan itu.
"Soal semangat, saya tidak ragukan lagi. Buktinya sejak tahun 2000 mereka masih setia mengembangkan rumput laut. Walau menggunakan sistem tradisional, tapi mereka tetap kerja. Soal harga, warga saya mengeluh karena ditentukan calon pembeli. Mereka (pembeli) yang tentukan harga dan selama ini dijual Rp 9.000/kilogram. Kalau sudah ada pabrik, tentu proses pengeringannya lebih baik dan harganya bisa lebih membantu para petani," kata Moses.