
Jakarta: Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) menyatakan bahwa potensi lahan untuk pengembangan rumput laut di Indonesia demikian luas dan dapat berkontribusi dalam penyerapan tenaga kerja. Namun, isu pelarangan ekspor dan bea keluar ekspor rumput laut dinilai dapat menghambat pelaku usaha untuk mengembangkan bisnis di sektor itu.
Ketua ARLI Safari Azis mengatakan, Indonesia merupakan salah satu eksportir terbesar rumput laut dan produksi Indonesia memang banyak. Hanya saja, bila Indonesia bisa mengekspornya kenapa harus dihambat dengan bea keluar.
"Pelarangan ekspor bisa berimbas pada penyerapan tenaga kerja dan berkurangnya pendapatan masyarakat,” ungkap Safari, dalam keterangan tertulisnya, yang ditulis di Jakarta, Sabtu (9/5/2015).
Menurut dia, kebutuhan rumput laut bagi industri Indonesia masih bisa terpenuhi karena penyerapannya masih kecil. Sehingga produksi rumput laut yang banyak berlebih bisa diekspor ke negara-negara yang selama ini memerlukan bahan baku rumput laut dari Indonesia.
Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukan bahwa di 2013 produksi nasional rumput laut sedikitnya mencapai 930.000 ton kering.
Jumlah yang diekspor mencapai 176.000 ton kering dengan nilai USD162,4 juta. Sementara jumlah yang diolah lebih kecil yakni hanya mencapai 120.000 ton kering.
“Kami mendukung upaya hilirisasi oleh pemerintah, hanya saja kami juga mengharapkan agar program hilirisasi itu bisa dipersiapkan dengan matang. Salah satunya adalah dengan meningkatkan daya saing industri nasional, penyerapan teknologi, investasi hingga akses pasarnya,” papar Safari.
Menurutnya, jika industri dalam negeri tidak dapat bersaing dengan industri Luar, efesiensi dan produktivitasnya harus ditingkatkan. Pihaknya juga meminta agar pemerintah tidak menjadikan program hilirisasi sebagai alasan utama dibalik pengenaan larangan ekspor dan bea keluar untuk rumput laut.
“Untung ruginya harus dihitung dengan cermat. Jangan sampai potensi devisa hilang begitu saja sementara lahan dan calon tenaga kerja masih banyak,” pungkas Safari.