
Sulawesi Selatan dikenal sebagai penghasil rumput laut terbesar di negeri ini, rumpur laut bahkan menjadi mata pencaharian utama bagi masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil. Rumput laut dari kabupaten Takalar dan Jeneponto sayangnya terkenal dengan mutu yang kurang baik (kandungan karaginan yang rendah, tingkat kekotoran yang tinggi dan kadar air yang tinggi), bahkan tidak sedikit eksportir dan industry pengolah yang menghindari membeli rumput laut dari wilayah ini karena adanya pencampuran garam. Kondisi ini tentu kurang menguntungkan bagi mereka yang selama ini bekerja baik, sebutlah misalnya petani di kecamatan Tarowang, Jeneponto yang terkenal dengan rumpu laut yang dijemur gantung.
Para pengepul di kabupaten ini juga saling bersaing untuk memperebutkan pasar yang sama di Makassar dan atau Surabaya, akibatnya saling tekan harga dengan aneka permainan dagang lainnya marak terjadi. Ujung-ujung semua permaian tersebut adalah penurunan mutu rumput laut dan rendahnya harga beli di tingkat petani. Mengikat petani untuk menjamin supply rumput laut seperti menjadi keharusan bagi tiap pengepul. Tidak jarang ditemukan pula satu petani menjadi “supplier” untuk lebih dari satu pengepul.
Bekerjasama untuk membangun branding rumput laut Takalar dan Jeneponto lebih baik dari pada saling menekan, itulah ide yang mendasari terbentunya KSU “TUNAS RUMPUT LAUT” yang pada 11 Februari 2015 didirikan oleh 20 orang pengumpul rumput laut di Kabupaten Takalar dan Jeneponto. Koperasi Serba Usaha “TUNAS RUMPUT LAUT” bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan para anggota melalui penyelenggaraan usaha yang berkaitan dengan usaha rumput laut.
Didampingi oleh Yayasan Siplanet/Jasuda, saat ini KSU mengelola kebun-kebun bibit (cottonii, spinosum dan gracilaria). Kebun-kebun bibit dikelola baik dengan investasi penuh dari Koperasi maupun dengan pola kemitraan antara Koperasi dengan anggotanya. Sampai saat ini Koperasi sudah meminjamkan lebih dari 39 ton bibit Cottonii kepada anggota dan bibit tersebut dibudidayakan oleh 75 orang petani. Anggota koperasi yang membudidaya di wilayah Jeneponto sudah memanen rumput laut sejak Februari lalu dan Koperasi membeli kembali dengan harga yang cukup menguntungkan. Sementara itu anggota yang berbudidaya di wilayah kecamatan Sanrobone, Takalar juga sudah mulai panen pada medio April lalu.
Mutu yang bagus pasti diikuti oleh harga yang bagus, itulah “tag line” yang terus dipromosikan oleh Koperasi yang mewajibkan semua anggota peminjam untuk memanen tidak kurang dari 45 hari dan menjemur rumput laut dengan cara gantung dan para-para. Koperasi pun membantu anggota dalam membangun sarana penjemuran gantung dan para-para. Tidak kurang dari 19 unit penjemuran gantung berikut para-para sudah dibangun bersama pengepul dan petani. Selain itu koperasi juga memiliki alcon yang dapat dipinjam oleh anggota. Jika pada waktu panen rumput laut kotor karena lumpur ataupun pasir, petani didampingi untuk menyemprotkan air laut menggunakan alcon.
Rumput laut yang dihasilkan dengan cara penjemuran gantung memang tampak berbeda dari rumput laut yang dipurusu dan dijemur diatas waring. Perbedaan utamanya adalah secara fisik rumput laut dari penjemuran gantung lebih bersih, lebih panjang dan hanya sedikit yang merupakan potongan-potongan kecil.
Koperasi membuat perbedaan harga beli antara rumput laut yang dijemur gantung dengan rumput laut yang dipurusu, agar minat petani untuk perbaikan mutu ini dapat ditingkatkan. Selain itu garam-garam yang keluar dari rumput laut juga dibeli oleh Koperasi, hal ini dimaksudkan untuk mendorong petani mengeluarkan garam sehingga kadar kotor (benda asing) di rumput tersebut dapat ditekan seminimal mungkin.
Dalam hal penjualan produk rumput laut tersebut, Koperasi bekerja sama dengan beberapa pembeli, diantaranya CV Sumber Rejeki, PT. Rapid Niaga Internasional dan PT. Indonusa Algaemas.
Pada 13 Mei lalu Koperasi menjual Spinosum dengan kualitas kadar air 35 % dan kadar kotor 2 % ke PT RNI. Karena mutu yang sangat memuaskan selain membayar dengan harga penuh (tanpa potongan apa pun) PT RNI malah menambah bonus Rp 200/kg untuk memotivasi anggota koperasi dalam mempertahankan mutu.
Umumnya petani anggota merasa sangat senang karena pada saat sekarang ini dimana harga rumput laut anjlok, mereka masih dapat menikmati harga yang baik. Koperasi secara transparan membukakan informasi harga yang disepakati bersama pembeli, biaya2 yang dikeluarkan dan margin keuntungan.
Anggota koperasi juga sepakat untuk menyimpan 5% dari setiap penjualan ke koperasi sebagai simpanan khusus. Simpanan ini dimaksudkan sebagai pemupukan modal di koperasi yang nantinya dapat dipinjam oleh angota untuk memperbesar skala usahanya.