
-JAKARTA: Kementerian Koperasi dan UKM menetapkan Kabupaten Jene Ponto, Bone dan Takalar, Sulawesi Selatan sebagai sentra rumput laut nasional untuk menyaingi Filipina yang mengkalim sebagai penghasil rumput laut terbesar dunia.
Menteri Negara Koperasi dan UKM Suryadharma Ali menegaskan penetapan sentra rumput laut tersebut merupakan kebijakan nasional untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu sentra produksi terbesar komoditas tersebut.
"Pengolahan hasil budi daya rumput laut dari tiga kabupaten itu saat ini masih terkonsentrasi di Tangerang. Kami menginginkan mereka bisa mengolah hasilnya di daerah masing-masing," ujar Suryadharma, baru-baru ini.
Petani rumput laut di tiga kabupaten itu, lanjutnya, sudah merasakan peningkatan kesejahteraan mereka. Dari budi daya itu pemerintah mempunyai tujuan mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan.
Harga 1 kg rumput laut dalam keadaan basah mencapai Rp4.000-Rp5.000. Jika sudah kering dan siap diolah sebagai bahan baku industri makanan, harganya jauh lebih tinggi, dengan kisaran Rp24.000 per kg.
Staf khusus Menkop dan UKM Ermalena Muslim mengemukakan saat ini Filipina mengklaim menjadi penghasil rumput laut terbesar dunia. Tapi data terakhir yang ditemukan Kemenkop, negara itu berada di bawah Indonesia.
"Indonesia saat ini menghasilkan 100.000 ton per tahun. Data terakhir yang kami temukan, Filipina ternyata hanya menghasilkan 60.000 ton," kata Ermalena.
Beberapa tahun sebelumnya, Indonesia sempat dianggap tertinggal karena sistem penanamannya masih konvensional dan tidak dibudidayakan. Di luar tiga kabupaten yang ditetapkan sebagai sentra rumput laut dunia, masih ada lima kabupaten lain di Sulawesi, a.l. Kabupaten Pinrang, Palopo dan Sinjai.
Meski demikian, rumput laut di daerah itu belum mampu mencukupi kebutuhan industri dalam negeri. Untuk produksi grasella ria yang dikenal dengan agar-agar, perusahaan pengelola di Tangerang Agarindo masih kekurangan bahan bakunya.