
NUNUKAN – "Disaat harga dipasaran naik, banyak pedagang liar masuk ke Nunukan ada sekitar 40 pedagang, disaat harga menurun pedagang liar malah kabur"
Ketua Asosiasi Pedagang Rumput Laut (APRL) Kabupaten Nunukan Kamaruddin mengatakan untuk saat ini harga rumput laut mengalami penurunan seperti yang terjadi di Surabaya dan Makassar yang merupakan dua tempat pengiriman rumput laut asal Nunukan. Penurunan harga dilakukan secara sepihak oleh pembeli didua kota tersebut dengan alasan tahun baru kemarin, kemudian bulan Februari ini memasuk tahun baru Imlek sehingga mempengaruhi harga jual dipasaran. Tak hanya itu alasan para pembeli, mereka mengatakan rumput laut menumpuk digudang Sulawesi dan Surabaya karena musim hujan sehingga tidak dapat diproses. Dengan kondisi seperti itu tentu menyulitkan petani termasuk pedagang di Nununan.
"Mau jual silahkan, mau tidak, tidak apa – apa dengan harga itu tadi," ucapnya.
Ia mengungkapkan untuk harga beli di Makassar saat ini berkisar diangka Rp. 12.000, perkilogram bahkan bisa sampai Rp. 11.500/. Dengan biaya pengiriman itu dihitung dari pedagang Rp. 1.300/kg sehingga mau tidak mau di petani rumput laut paling tinggi Rp. 9.000,/kg," ucapnya.
Selanjutnya, APRL Nunukan memiliki 20 orang anggota yang berasal dari Sebatik dan Nunukan dimana setiap bulannya mengirim rumput laut Nunukan ke Surabaya dan Makassar hingga mencapai 2500 ton. Dalam sebulan kata Kamaruddin dari rumput laut, perputaran uang mencapai Rp. 30 Milyar sehingga sangat berdampak pada petani rumput laut termasuk juga masyrakat Nunukan.
"Kalau dalam sebulan itu yah 4 kali kalau ke Makassar dan 2 kali kalau ke Surabaya karena jadwal kapal karena pihak SPIL itu dua kali penjemputan container itu yang ke Surabaya kalau ke Makassar 4 kali karena setiap minggu ada kapal Thalia, Bukit Siguntang dan Lambelu," katanya.
Ia mengungkapkan dengan rutinnya kapal laut ke Nunukan sehingga tidak menyulitkan pedagang untuk melakukan pengiriman sehingga dalam sebulan APRL Nunukan melakukan pengiriman sebanyak 6 kali. Untuk ke Makassar dalam seminggu dapat mengirim 3000 karung dengan berat tiap karung yaitu 90 kg, sedangkan untuk ke Surabaya dalam 2 minggu sekali sekitar 40 container dimana dalam 1 container memiliki berat 13 ton.
Dengan tingginya angka permintaan terhadap rumput laut Nunukan, tetapi tidak dibarengi dengan harga yang baik diharapkan Pemerintah Daerah Nunukan terutama Dinas Kelautan dan Perikanan Nunukan untuk turun tangan mengatasi persoalan dimaksud. Selain itu pula, para pembeli di Surabaya meminta perbaikan kualitas rumput laut Nunukan mengingat sekarang ini rata – rata mereka meminta kualitas kekeringan 35 – 36 kadar air sedangkan yang ada di Nunukan berkisar 38 keatas bahkan 40. Selain kualitas kekeringan yang harus ditingkatkan, petani juga menemukan kendala rumput laut yang berlumut.
"Makanya kita dari pedagang ini terus terang banyak kita membeli baru kita proses ulang baru kita kirim supaya harga agak tinggi. Proses ulang maksudnya dijemur ulang baru dkirim dengan penyusutan sampai 15 persen perkarung," ucapnya.