
Denpasar - Pengembangan komoditas rumput laut di daerah pesisir, khususnya di sekitar Pulau Nusa Penida, yang terpisah dengan daratan Bali cukup menjanjikan, karena mampu memberikan nilai ekonomis yang cukup besar.
"Usaha budidaya rumput laut seluas 100 meter persegi (satu are) biaya produksi Rp0,48 juta, hasil panen mampu menghasilkan sebesar Rp1,1 juta, sehingga memperoleh keuntungan hampir dua kali lipat dari modal awal," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Panasunan Siregar di Denpasar, Minggu (28/12/2014).
Ia mengatakan, data tersebut diperoleh dari hasil sensus pertanian tahun 2013 yang dilakukan secara rinci terhadap komoditas perikanan dan kelautan serta tanaman kehutanan, sektor peternakan dan sektor pertanian. Biaya produksi budidaya rumput laut itu mencapai 43,31 persen (Rp0,48 juta) terhadap nilai produksi sehingga memperoleh keuntungan 56,69 persen.
Panasunan Siregar menambahkan, biaya terbesar yang dikeluarkan untuk pengadaan bibit sebesar Rp213.400 atau 44,56 persen dari seluruh biaya yang dikeluarkan dari biaya untuk pekerja, sarana usaha dan obat-obatan untuk tanaman rumput laut tersebut.
Sehingga banyak petani melirik komoditas rumput laut, karena lebih menjanjikan dengan penggunaan modal yang sedikit. Ditambah lagi perawatan komoditas tersebut tidak terlalu sulit.