
Indonesia penghasil rumput laut di dunia dengan produksi rumput laut terbesar dan menjadi eksportir rumput laut terpenting di Asia. Namun dalam produk olahan rumput laut, malah impor dalam jumlah besar. Ironis
Kondisi inilah yang membuat Soerianto Kusnowarjono, Ketua Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia (ASTRULI) ngotot agar ada kebijakan ekspor rumput laut. Pasalnya, saat ini sebagian produksi rumput laut diekspor begitu saja ke luar negeri dengan harga murah. Bahkan, banyak petani rumput laut yang menjual langsung hasil produksi kepada pengepul atau pihak yang membutuhkan.
Bahan Industri berbahan baku rumput laut kesulitan mendapatkan bahan baku. Pasalnya, hampir 50% hasil produksi petani di ekspor ke luar negeri,seperti AS, Eropa, Jepang,Thailand, Malaysia, dan China. “Kita butuh rumput laut sekitar 150 ribu ton per hari. Tetapi sulit, makanya kapasitas produksi turun terus hingga 60-70%," jelas Soerianto.
Belum lagi soal produk rumput laut belum terdata dengan baik terkait harmonized system code atau kode HS untuk tiap jenis dan tipe dari produk tersebut. "Selama ini masih tercampur. Kami mengharapkan HS code rumput laut dapat diperjelas agar ekspor jelas dan importasi yang diberikan juga jelas,”tandasnya
Soerianto melihat potensi industri rumput laut cukup besar. "Tetapi bahan bakunya harus ada dulu karena kalau tidak ada bahan baku sangat sulit untuk dikembangkan," jelasnya.
Sebagai Ketua ASTRULI yang baru saja lahir, ia juga mengimbau kepada pengusaha industri rumput laut di Indonesia untuk melakukan kerja sama langsung dengan petani agar pasokan dan pasar antara kedua belah pihak terjamin.