
Dengan semakin luasnya pemanfaatan hasil olahan rumput laut dalam berbagai industri,
maka semakin meningkat pula kebutuhan akan rumput laut sebagai bahan baku. Selain
untuk kebutuhan ekspor, pangsa pasar dalam negeri cukup penting karena selama
ini industri pengolahan rumput laut sering mengeluh kekurangan bahan baku. Melihat
peluang tersebut, pengembangan komoditas rumput laut memiliki prospek yang cerah
karena memiliki nilai ekonomis yang penting dalam menunjang pembangunan perikanan
baik kaitannya dengan peningkatan ekspor non migas, penyediaan bahan baku industri
dalam negeri, peningkatan konsumsi dalam negeri maupun meningkatkan pendapatan
petani/nelayan serta memperluas lapangan kerja.
Budidaya rumput laut Eucheuma sp yang sudah biasa dilakukan oleh petani/nelayan
adalah dengan menggunakan metode rakit apung (floating raft method) atau metode
lepas dasar (off bottom method) dan metoda tali panjang (long line method),
metode ini sangat tepat diterapkan pada areal perairan antara interdal dan subtidal
dimana pada saat air surut terendah dasar perairan masih terendam air serta
lebih banyak memanfaatkan perairan yang relatif dangkal. Oleh karena itu untuk
melakukan pengembangan budidaya rumput laut tersebut sangat terbatas apalagi
beberapa lokasi perairan pantai di Indonesia pada waktu surut terendah dasar
perairannya kering. Dengan demikian perlu adanya metode lain yang bisa memanfaatkan
perairan-perairan yang relatif dalam yang selama ini kurang dimanfaatkan walaupun
sebenarnya mempunyai potensi lebih besar apabila dimanfaatkan secara optimal.
PEMILIHAN LOKASI
Memulai budidaya rumput laut di laut dengan kedalaman lebih dari 10 m, ada beberapa
hal yang mesti diperhatikan, yaitu
1. Faktor Resiko
Lokasi terlindung, biasanya terdapat pada perairan teluk
Lokasi aman dari pencurian dan konflik kepentingan
2. Faktor Ekologis
Arus : 20 - 40 cm/detik, suhu 24 - 28OC, indikator lokasi yang memiliki
arus yang baik biasanya disekitarnya ditumbuhi karang lunak dan padang lamun.
Salinitas : bersifat stenohalin antara 28 - 35 ppt, dengan nilai optimum
33 ppt
Kecerahan perairan ideal 1 meter
Pencemaran : lokasi terhindar dari limbah
3. Faktor pendukung lainnya
Ketersediaan bibit : dilokasi terdapat stock bibit
Tenaga kerja : berdomosili disekitar lokasi budidaya
PENGADAAN BIBIT
Kriteria bibit unggul
Bercabang banyak, rimbun dan runcing
Bibit harus baru, cerah dan masih muda
Thallus tidak berlendir serta rusak / patah-patah
Tidak bercak dan terkelupas, tidak berbau busuk
Umur 25 - 35 hari
Pengangkutan bibit harus hati-hati, tetap basah/terendam air laut
Bibit harus terlindung dari minyak, kehujanan dan kekeringan dalam penyimpanan
Berat bibit yang ditanam antara 50 - 100 gram per rumpun
Tidak ada bagian thallus yang transparan tidak berpigmen
Tidak terkena penyakit ice-ice
METODE BUDIDAYA
Metode penanaman di laut dalam hampir sama dengan metode tali panjang (long
line method) dan metode rakit tetapi tidak murni menggunakan bambu sebagai rakit
melainkan menggunakan tali plastik dan botol aqua bekas sebagai pelampungnya
dan hanya sedikit bambu. Metoda ini sangat cocok digunakan di laut dengan kedalaman
sampai 20 m. Metode ini dimasyarakatkan karena selain lebih ekonomis juga bisa
diterapkan di perairan yang agak dalam. Keuntungan metode ini antara lain:
tanaman cukup menerima sinar matahari;
tanaman lebih tahan terhadap perubahan kualitas air;
terbebas dari hama yang biasanya menyerang dari dasar perairan;
pertumbuhannya lebih cepat;
cara kerjanya lebih mudah;
biayanya lebih murah;
kualitas rumput laut yang dihasilkan baik.
Saat ini para petani/nelayan di perairan Bali Barat dan NTB-NTT umumnya mengembangkan
usaha budidaya rumput laut dengan metode tali panjang, dan tentunya metode ini
dapat diterapkan dan dikembangkan oleh petani/nelayan di wilayah lain di Indonesia.
Metode ini cocok untuk diterapkan pada perairan berkarang dengan pergerakan
airnya didominasi oleh ombak. Penanaman dengan menggunakan rakit-rakit, ukuran
tiap rakit sangat bervariasi bergantung pada ketersediaan material. Ukuran rakit
dapat disesuaikan dengan kondisi perairan tetapi pada prinsipnya ukuran rakit
yang dibuat tidak terlalu besar untuk mempermudah perawatan rumput laut yang
ditanam.
Sebagai contoh, untuk pemeliharaan yang efektif dan efisien, umumnya 1 unit
usaha terdiri dari 20 rakit berukuran 5 x 50m atau dibutuhkan luas lahan kurang
lebih 60 are.. Satu rakit terdiri dari 6 ris, panjang 50 m dengan jarak antara
masing-masing ris > 1m. Setiap ris dapat diikatkan 250 rumpun tanaman dan
jarak antara rumpun yang satu dengan yang lainnya adalah 20 cm, sehingga dalam
satu rakit akan terdiri dari 1500 rumpun dengan berat rata-rata per rumpun 100
gram atau dibutuhkan bibit sebanyak 150 kg.
Bahan-bahan yang dibutuhkan pada 1 unit usaha yang berukuran 5 m x 50 m antara
lain :
Bambu sebanyak 6 batang panjang @ 6 m
Tali plastik diameter 9 mm sebagai tali jangkar 60 m
Tali plastik diameter 5 mm sebagai tali ris tempat untuk mengikatkan
bibit 300m.
Tali rafia sebagai pengikat bibit 1 gulung besar.
Bibit rumput laut 150 kg.
Botol plastik bekas/gabus sebagai pelampung 60 buah.
Bola pelampung besar/jerigen 2 buah
Patok besi 2 m sebagai jangkar sebanyak 4
Perahu 1 unit.
Tempat penjemuran
PERAWATAN PERTANAMAN
Dalam usaha budidaya rumput laut, perawatan tanaman adalah sangat penting. Kegiatan
perawatan meliputi hal hal sebagai berikut:
1. Segera menyisipi tanaman yang hilang/rusak dari setiap ikatan. Hasil pertanaman
akan banyak jika disetiap ikatan ada tanamannya.
2. Bersihkan tali dan tanaman dari tumbuhan dan hewan pengganggu yang dapat
menghalangi sinar matahari, arus air serta makanan bagi tanaman.
3. Ganti patok pancang yang sudah lapuk atau patah, atau kuatkan patok pancang
yang sudah goyah.
4. Kuatkan ikatan tali tanam. Tali tanam yang lepas atau longgar, dapat saling
kait satu dengan yang lain dan mengakibatkan tanam akan patah.
5. Guncang dan bersihkan lumpur yang melekat pada tanaman dan tali. Lumpur yang
menempel pada tanaman dapat menurunkan kecepatan tumbuh karena menghalangi tanaman
dari sekitar matahari dan makanan.
6. Ganti tanaman yang sakit atau mengandung penyakit. Tanaman yang sedang sakit
akan memutih-lunak (ice-ice) akan menularkan penyakit kepada tanaman sekelilingnya.
Buanglah tanaman yang sakit dari pertanaman secepatnya mungkin.
PENANGANAN PASCA PANEN
Tanaman sudah dapat dipanen dengan cara panen total (full harvest) setelah berumur
45 60 hari sejak ditanam. Panen dilakukan dengan cara mengangkat seluruh
tanaman, sedangkan pelepasan tanaman dari tali ris dilakukan di darat. Penanaman
kembali dilakukan dengan memilih bagian ujung tanaman yang masih muda dan bagian
pangkal tanaman yang merupakan bagian yang tua dikeringkan karena memiliki kandungan
karaginan yang tinggi.
Pengeringan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan cara menggunakan alat
pengering (oven) atau secara alami dengan menjemur dengan sinar matahari. Yang
murah dan praktis adalah dengan cara dijemur dengan sinar matahari selama 2
3 hari, tergantung kondisi panas matahari. Dalam penjemuran ini harus
menggunakan alas, seperti para-para, terpal plastik dan lain-lain untuk menghindari
tercampurnya rumput laut hasil panen dengan kotoran seperti pasir atau kerikil
dan lain-lain. Saat ini cara pengeringan yang dianggap paling baik adalah dengan
cara dijemur gantung yaitu tiap rumpun setelah diraut/dicopot dari ikatannya
segera digantung lagi dengan tali. Cara ini akan mengurangi penyusutan 2 kali
lipat dan mampu menghasilkan kering yang merata di setiap bagian thallus tanaman.
Setelah kering dan bersih dari segala macam kotoran maka rumput laut dimasukkan
kedalam karung plastik untuk kemudian siap dijual atau disimpan di gudang. Pada
waktu penyimpanan hindari kontaminasi dengan minyak atau air tawar. Proses penjemuran
dan penyimpanan sangat perlu mendapat perhatian, karena meskipun hasil panennya
baik akan tetapi bila penanganan pasca panennya kurang baik maka akan mengurangi
kualitas rumput
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penangnan pasca panen
1. Saat mengangkut hasil panen segar dari lapangan ke pantai/rumah, jangan sampai
menginjak rumput laut hasil atau menaruhnya diatas pasir ataupun menaruhnya
di tempat yang kotor. Gunakanlah lokasi yang bersih untuk melepaskan tanaman
dari tali tanam. .
2. Gunakanlah meja jemur yang dilengkapi dengan tenda pelindung hujan (tenda
plastik) untuk menjaga dari hujan tapi angin masih dapat mengalir bebas, pada
saat menjemur.
3. Bila sudah kering, guncang bersih semua garam, lalu tempatkan rumput laut
anda didalam karung plastik dan simpan di dalam ruangan yang bersih, kering
dan diberi jarak dari lantai (diberi alas).
ANALISA USAHA
no |
alat |
unit |
freq |
harga |
biaya |
1 |
bambu |
6 |
20 |
6,000 |
720,00 |
2 |
tali 8-9 mm |
60 |
20 |
2,000 |
2,400,000 |
3 |
tali 4-5 mm |
300 |
20 |
500 |
3,000,000 |
4 |
tali rafia |
1 |
20 |
5,000 |
100,000 |
5 |
botol pelampung |
60 |
20 |
100 |
120,000 |
6 |
bola pelampung |
2 |
20 |
50,000 |
2,000,000 |
7 |
patok besi |
4 |
20 |
25,000 |
2,000,000 |
8 |
sampan |
1 |
1 |
300,000 |
300,000 |
9 |
tempat penjemuran |
1 |
1 |
200,000 |
200,000 |
10 |
bibi |
150 |
20 |
2,000 |
6,000,000 |
|
total |
|
|
|
16,840,000 |
|
titik habis nilai alat |
|
|
|
24 bulan |
|
nilai penyusutan/bln |
|
|
|
701,667 |
RENCANA BIAYA TETAP
no |
komponen biaya tetap |
jumlah |
1 |
penyusutan alat |
701,667 |
|
total |
701,667 |
BIAYA PRODUKSI (asumsi kebutuhan dalam
sebulan)
no |
komponen biaya produksi |
harga satuan |
unit |
freq |
biaya |
1 |
biaya perawatan |
500 |
20 |
30 |
300,000 |
2 |
upah tenaga kerja |
400,000 |
2 |
1 |
800,000 |
|
TOTAL |
|
|
|
1,100,000 |
MODAL USAHA
|
HARTA |
NILAI |
SUMBER DANA |
NILAI |
1 |
kas |
|
|
|
1.1 |
kas ditangan |
1,100,000 |
hutan |
18,088,000 |
1.2 |
kas di bank |
1,100,000 |
|
|
2 |
alat |
16,840,000 |
modal sendiri |
952,000 |
|
jumlah harta |
19,040,000 |
JUMLAH MODAL |
19,040,000 |
RENCANA PENJUALAN (asumsi dalam setahun
5 kali panen @ 3 ton kering)
|
uraian |
jumlah |
|
penjualan |
15,000 |
|
harga jual |
3,800 |
|
jumlah penjualan |
57,000,000 |
|
|
|
|
jumlah penjualan |
57,000,000 |
|
total biaya produksi |
13,200,000 |
|
total laba kotor |
43,800,000 |
PROYEKSI LABA RUGI
LABA BERSIH=LABA KOTOR-BIAYA
TETAP |
|
|
|
|
laba kotor |
|
|
|
|
|
biaya tetap |
|
|
|
|
|
laba bersih |
|
|
|
|
|
|
|
KONTRIBUSI LABA KOTOR=LABA KOTOR/TOTAL
PENJUALAN |
|
|
|
|
laba kotor |
43,800,000 |
|
|
|
|
total penjualan |
57,000,000 |
|
|
|
|
kontribusi laba kotor |
0.768 |
|
|
|
|
|
|
BEP=TOTAL BIAYA TETAP/KONTRIBUSI
LABA KOTOR |
|
|
|
|
total biaya tetap |
8,420,000 |
|
|
|
|
kontribusi laba kotor |
0.768 |
|
|
|
|
|
10,957,534 |
|
|
|
|
|
|
BEP BERDASAR PRODUK=BEP/HARGA
JUAL PRODUK |
|
|
|
|
BEP |
10,957,534 |
|
|
|
|
harga jual produk |
3,800 |
|
|
|
|
|
2,884 |
Dengan metoda laut dalam ini, bukan hanya laut
dengan kedalaman kurang dari 10 m bisa ditanami rumput laut. Ternyata kedalaman
lebih dari 10 m pun masih bisa ditanami rumput laut bahkan hasilnya akan lebih
banyak karena pertumbuhan cepat dan kualitas baik. Dilihat dari analisa usahapun,
budidaya rumput laut sangat menjanjikan. Dengan modal 19 jt-an dalam 60 are
lahan diperoleh hasil bersih 35jt-an dalam setahun. Dan titik pulang modal sudah
didapatkan kurang dari 6 bulan. Siapa yang tertarik???