
Budi daya rumput laut di Pantai Amal, Tarakan, dimulai sejak 2009 lalu. Sebagian warga memiliki “kebun rumput” ini tak jauh dari rumahnya. Dari tahun ke tahun produksinya meningkat. ?
YUDHA ALMERIO, Tarakan
PANAS baskara adalah berkah bagi petani rumput laut di Kelurahan Pantai Amal, Kecamatan Tarakan Utara. Membuat proses pengeringan rumput laut lebih cepat. Hanya dua hari. “Makin cepat kering, cepat juga dijual,” ucap Irianto Laji, petani rumput laut yang ditemui harian ini sepekan lalu.
Sejak 2009 lalu, nelayan di Pantai Amal banting setir mengurusi rumput laut karena dinilai lebih menguntungkan. Per kilogram bisa dihargai sampai Rp 15 ribu, bila kondisi baik. Produksi rumput laut di pulau ini pun melonjak. Memasuki 2014, produksi di wilayah Kaltara meningkat signifikan menjadi 2.400 ton per bulan. Sebelumnya pada 2009, angka produksi komoditas tersebut hanya 500 ton per bulan.
Di sepanjang pesisir Pantai Amal, saat ini terdapat sekitar 30 kelompok tani rumput laut. Total petani yang tergabung diperkirakan berjumlah 5.000-6.000 orang.
“Karena menjanjikan, saya juga akhirnya jadi petani rumput laut. Sebelumnya nelayan,” ujarnya.
Namun, di balik potensi tersebut, petani rumput laut di Tarakan terus menghadapi tantangan klise, yaitu masalah penanganan usai panen. Menurutnya hampir semua petani masih menjemur rumput laut secara tradisional. Yakni hanya menjemur di atas terpal plastik seadanya, rentan tercemar sampah dan kerikil.
“Belum lagi kiriman bantuan dari pemerintah terkadang tak tepat sasaran. Misalnya diperlukan tali besar malah diberikan yang kecil. Kan jadi tak dipakai,” terangnya.
Dia menambahkan, pada kondisi normal 100 bentangan tali biasanya mampu menghasilkan 1-2 ton rumput laut. Namun, saat ini produksi dari 100 bentangan hanya 200 kilogram (kg). Belum lagi masalah gagal panen pada Agustus lalu. Oktober ini pun terlihat bermasalah.
Ya, rumput laut tak bisa dipanen lantaran cuaca yang tak bersahabat, gelombang tinggi, tiram, dan lumut. Akibatnya produksi merosot sekitar 60 persen.
“Ini hama musiman. Kami berharap cuaca berubah dan kondisi kembali membaik pada November mendatang. Saat ini aktivitas penjemuran sepi, seperti yang sekarang terlihat, karena gangguan hama tadi,” katanya.
Mereka juga menghadapi pemasaran yang tidak pasti. Sangat bergantung tengkulak. Petani tak bisa menjual langsung kepada eksportir ataupun pengolah karena kapasitas produksi yang terbatas, sedangkan eksportir membutuhkannya dalam jumlah besar.
Petani juga tak bisa menjual melalui pemasaran bersama. Sebab, mereka tidak bergabung dalam kelompok. “Tapi kalau saya ikut dengan orang, harga agak terkendali. Walaupun paceklik dibeli dengan harga Rp 13 ribu per kilogram,” sebutnya.
Pengamatan Kaltim Post rumput laut telah mengubah kondisi ekonomi di kawasan Pantai Amal. Namun tak hanya membawa dampak positif, tentu juga memiliki efek negatif.
Misalnya anak-anak usia sekolah yang lebih memilih bekerja sebagai pencuci tali dan pengikat bibit karena mendapatkan upah.
Untungnya masih ada sebagian lainnya yang tak berhenti, memutuskan bekerja sepulang sekolah.