
Jakarta, JMOL ** Penggunaan rumput laut di dalam negeri saat ini belum dikonsumsi dan dimanfaatkan secara optimal. Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) menilai, perlu upaya pendorong penguatan sektor hulu rumput laut untuk menghadapi hilirisasi dan tantangan-tantangan yang datang dari dalam maupun luar.
“Sebelum hilirisasi, sektor hulunya harus kuat terlebih dahulu,” ungkap Ketua Umum ARLI, Safari Azis, di Jakarta, Selasa (7/10/2014).
Permasalahan pengembangan rumput laut di sektor hulu meliputi program riset dan development yang masih minim, tataruang, ketetapan dan kewajaran harga bagi petani, hingga keterjaminan pasarnya.
Safari menjelaskan, rumput laut juga harus bersaing dengan pengenyal, pembersih, dan pengemulsi lain yang berasal dari tumbuhan dan hewan.
“Perlu ada ketentuan zonasi, karena area budidaya rumput laut bersinggungan dengan area wisata, seperti yang terjadi di Bali atau dengan area rencana pembangunan smelter di Makassar,” ungkap Safari.
Permasalahan lain adalah ketetapan harga jual petani yang bersinggungan dengan harga beli industri dan tidak sesuai dengan harga internasional.
“Sekarang ini, petani dapat dengan mudah mengakses harga di pasaran internasional, sehingga serapan industri yang cenderung lebih rendah kemungkinan karena petani lebih memilih untuk melakukan ekspor,” ujar safari.
Atas permasalahan tersebut, ARLI tetap mengusulkan adanya roadmap khusus untuk komoditas rumput laut, sehingga diharapkan langkah yang diambil bisa lebih tepat demi penguatan rumput laut di sektor hulu hingga hilir.
“Dengan roadmap bisa jelas angka konsumsi dalam negeri seperti apa, olahannya bagaimana, juga berapa jumlah dan nilai yang diekspornya, serta angka potensi yang bisa dikembangkan lagi seperti apa. Datanya harus jelas, sebelum hilirisasi, kondisi hulunya juga perlu penguatan,” papar Safari.
Menurutnya, bila sektor hulu rumput laut tidak dijaga maka misi untuk mengentaskan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, hingga kesejahteraan petani akan menjadi sia-sia.
Rumput Laut Nasional kian berkembang seiring misi awal yang diusung untuk mengentaskan kemiskinan, menyerap tenaga kerja, menjaga kelestarian lingkungan dan penghasil devisa, serta menyejahterakan petani dan pembudidaya.