
Ekspor rumput laut Sulsel telah menembus 21 negara di seluruh benua di dunia selama semester I/2006, dengan total volume 12.900 ton senilai US$4,8 juta.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulsel mengemukakan, keberhasilan
rumput laut Sulsel terserap pasar dunia, disebabkan produksi dan kualitas
komoditas tersebut di daerah ini sangat baik dibandingkan negara dan
provinsi lain.
Selama paruh I 2006 rumput laut Sulsel telah melanglang ke negara
Argentina, Australia, Belanda, Belgia, Chili, Cina, Demmark, Hongkong,
Inggris, Italia, Jerman, dan Lithuania.Tak hanya itu, Sulsel juga mengekspor rumput laut ke negara Panama,Perancis, Filipina, Portugal, Republik Korea, Spanyol, Taiwan, Tunisia, dan Vietnam.
"Keberhasilan rumput laut Sulsel menembus pasar dunia menunjukkan
revitalisasi perikanan dan program Gerbang Emas (Gerakan Pembangunan
Ekonomi Masyarakat) telah berjalan baik," ungkapnya kepada Bisnis di rumah
jabatan Gubernur Sulsel, kemarin (5 September 2006-red)
Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulsel menyebutkan
ekspor rumput laut Sulsel triwulan II/2006 terbilang tinggi di 3 negara,
yakni Hongkong 4.800 ton (naik 504%), Philipina 2.100 ton (naik 46,21%),
dan Spanyol 1.100 ton (turun 17,79%).
Produksi rumput laut Sulsel sendiri terus menunjukkan tren peningkatan.
Produksi 2004 yang hanya sebesar 23.700 ton, melonjak mencapai 35.400 ton
di akhir 2005.
Data terakhir semester I 2006, produksi rumput laut Sulsel telah mencapai
41.000 ton, atau melampaui produksi selama setahun pada 2005, dimana 38.500
ton berjenis euchema cottoni.
Menurut Syahrun, ekspor terbesar rumput laut Sulsel didominasi jenis
Euchema cottoni yang dikembangbiakkan di laut dan digunakan untuk bahan
bedak dan tepung rumput laut sebagai produk setengah jadi untuk berbagai
produk akhir.
Namun,lanjutnya, Sulsel juga mengekspor rumput laut jenis gracilaria
sp.yang merupakan bahan baku produk agar-agar.
"Hanya dua komunitas rumput laut [cottoni dan gracilaria] yang sesuai
dibudidayakan oleh petani Sulsel, dan kami [DKP Sulsel] berusaha
meningkatkan produksi rumput laut Sulsel hingga 100% pada 2007," tuturnya.
Jaga kebersihan
Di tempat terpisah, Kepala Seksi Pembinaan dan Pemasaran DKP Sulsel Arni
mengutarakan, sentra budidaya rumput laut Sulsel berlokasi di Kabupaten
Selayar, Sinjai, Bulukumba, Jeneponto, Takalar, Pangkep, Bantaeng, Pinrang,
Bone, Wajo, Luwu, dan Palopo.
Menurut dia, masalah yang dihadapi oleh petani rumput laut Sulsel terdapat
pada tahap pengeringan.
"Petani biasanya melakukan proses tersebut di tempat terbuka dan pasir.
Padahal, kadar kotoran yang ditoleransi importir hanya 5%," ujarnya.
Hal tersebut tentunya mempengaruhi harga jual, namun hingga kini DKP tetap
menggencarkan himbauan kepada para petani agar secara sungguh-sungguh
menjaga kebersihan produknya tersebut. (k26) (makassar@bisnis.co.id)