Jakarta,Beritabuana.co - Ketersediaan bahan baku rumput laut di dalam negeri cukup melimpah, namun serapan oleh industri nasional masih kecil. Selain itu juga kajian nilai tambah rumput laut dala proses hilirisasi masih belum jelas.
Ketua Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) Safari Azis mengatakan kecilnya penyerapan bahan baku tersebut antara lain disebabkan ketidakmampuan industri nasional menyesuaikan harga bahan baku rumput laut dengan harga pasar internasional.
''Kami berharap agar pemerintah melakukan kajian yang jelas terkait jumlah produksi dan nilai ekspor rumput laut,''ujar Safari, di Jakarta, Kamis (11/9/2014).
Menurut Safari,sebaiknya pemerintah terlebih dulu mengkaji perbandingan nilai ekspor dengan serapan produksi rumput laut lokal agar hilirisasi dapat dilaksanakan dengan baik.
Pada kesempatan itu, Safari mengemukakan, ARLI memberikan dukungan terhadap pemerintah yang berusaha untuk mendorong tumbuhnya industri pengolahan rumput laut sebagai hilirisasi industri bernilai tambah tinggi.
Namun lanjut Safari, Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian dan Kementerian Kelautan dan Perikanan harus memperhatikan dulu daya saing industrinya, mulai dari hambatan-hambatan hilirisasinya di luar dari kesulitan mendapatkan bahan baku hingga teknologi pengolahannya.
Hilirisasi, kata Safari, harus dipersiapkan dengan matang agar pelaksanaannya baik dan efektif serta tidak bertentangan dengan program pengentasan kemiskinan dan kesejahteraan petani.