
Permintaan komoditas rumput laut terus memperlihatkan tren naik.Padahal kalau dilihat dari wujudnya,bentuk fisiknya tidak ada yang akan "jatuh cinta pada pandangan pertama" kepada rumput laut kering. Tapi jangan berkerut kening lama-lama, karena berdasarkan informasi Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), permintaan komoditas ini mulai mengalami peningkatan sejak awal 1980 untuk memenuhi berbagai kebutuhan di bidang industri makanan, tekstil, kertas, cat, kosmetika dan farmasi.
Perkembangan Pemanfaatan Rumput Laut dan Industri
Secara umum rumput laut baik dari alam maupun yang dibudidayakan, mempunyai kandungan mineral dan gizi yang tinggi. Substansi yang dikandungnya antara lain karbohidrat, protein, lemak, asam amino, kalium, natrium, kalsium, mangnesium dan iodium.
Pada awalnya rumput laut digunakan untuk makanan dan obat. Sebagai makanan, banyak suku-suku pantai di dunia yang menjadikan rumput laut yang bermacam-macam jenis ini sebagai salah satu bahan dalam makanan ‘kampung’ mereka. Misalnya: di Filipina pun rumput laut yang di daerah Makassar dikenal dengan nama: “agarra”, dan di Maumere dikenal sebagai “lat” juga merupakan makanan sehari-hari yang hadir sebagai lalapan. Di Jepang, sebagai contoh, di kenal “nori”, “wakame”, dan “kombu”. Nama-nama lokal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan rumput laut telah lama ada di dalam budaya masing-masing komunitas pantai ini. Dengan sejarah yang panjang kepada pengetahuan pengobatan tradisional mereka.
Tapi pemanfaatan rumput laut menjadi semakin popular dengan perkembangan pengetahuan belakangan ini yang maju pesat. Secara umum rumput laut dimanfaatkan dalam bentuk agar-agar, karaginan dan alginat. Lewat proses ekstrasi rumput laut dimanfaatkan untuk bahan baku berbagai industri seperti dalam :
- Industri Pangan, yakni sebagai bahan penstabil, pengemulsi, pengental, dan bahan tambahan pangan (additive). Penggunan carragenan sebagai bahan pengemulsi dalam produk dairy ( susu), coklat. Penstabil pada industri pengolahan daging seperti sosis, nugget. Bahan tambahan pangan pada produk permen jelly dll
- Industri Kosmetika seperti sabun mandi, shampo, pelembab kulit, pasta gigi dan sebagainya, karena rumput laut adalah salah satu komponen bahan dasar.
- Industri Farmasi seperti tablet, kapsul, salep, insektisida, pestisida. industri tekstil, suplement.
- Industri lainnya seperti : Industri keramik sebagai perekat dan memperkuat keramik. Industri tekstil sebagai pewarna. Beberapa penelitian juga menyebutkan rumput laut bisa digunakan sebagai biofertilizer / pupuk organik cair
Umumnya yang bisa mengekstrak kandungan berbagai zat tersebut dilakukan oleh kalangan dan dalam skala industri karena proses ekstraksi ini dilakukan dengan teknologi tertentu dan pada suhu rendah. Suhu yang rendah ini harus selalu terjaga, karena bahan yang dikandung oleh rumput laut tersebut sensitif terhadap panas. Artinya, pemanasan akan merubah bentuk dari bahan kandungan yang disarikan dari rumput laut.
Meski pun pemanfaatan jenis dan tingkat pengolahan rumput laut untuk menjadi bahan dasar industri di Indonesia masih sangat terbatas, karena proses produksi yang dibutuhkannya itu, pemanfaatan rumput laut dalam skala rumah tangga telah banyak dilakukan seperti pembuatan manisan rumput laut, dodol dan kerupuk dari rumput laut, permen jelly, cendol dll.
Di Indonesia, bahan mentah untuk pemanfaatan berbagai keperluan di atas sangat bervariasi. Mulai dari industri agar-agar yang memakai gelidium/gelidiella dan gracilaria sebagai bahan baku sampai industri karaginan yang memakai cottonii dan spinosum, sedangkan untuk industri alginat yang bahan dasarnya adalah sargassum, dimulai semenjak 1995. Tapi dari sekitar 70 jenis rumput laut (Anggadireja et.all, 1996)yang telah dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat pantai secara tradisional, perdagangan rumput laut bersifat oligopolistik dimana petani pembudidaya atau produsen hanya dapat menjual kepada sejumlah kecil pembeli. (lv0806)