
Petani rumput laut di Takalar Lama yang berjumlah sekitar 90 KK, saat ini sudah merasakan manfaat ekonomi dari usaha menanam Rumput Laut khususnya jenis Euchema cottonii (Makassar : Agara’). Walau dengan harga yang cenderung tidak stabil pada tahun-tahun sebelumnya, namun dengan makin tingginya permintaan eksportir di Makassar maka harga menjadi lebih baik. Sayangnya, mereka masih butuh peningkatan harga pembelian ditingkat lokal karena menurutnya sebenarnya harga cukup tinggi jika sudah tiba di eksportir.
Pada saat Pak Bruce bertanya ; mengapa harga pembelian ditingkat lokal (Takalar Lama, red.) tidak memuaskan Petani, mereka menjawab bahwa Kami sangat tergantung kepada harga pembelian pedagang Pengumpul Lokal dan Pengumpul yang datang dari Makassar, dan kami tidak tahu perkembangan harga di Kota (di Eksportir, red.). Kami juga terkendala oleh terbatasnya informasi tentang bagaimana memelihara dan mengolah hasil panen rumput laut, jadi Kami hanya menggunakan bibit dari Pulau Tanakeke yang hasilnya kurang baik dan memelihara dengan cara-cara biasa dengan hasil yang untung-untungan, kata mereka.
Akan tetapi dengan adanya jaringan Terminal JASUDA di Takalar Lama, maka harapan akan akses informasi yang bermanfaat untuk petani rumput laut akan dapat terpenuhi. Asalkan Bapak-bapak rajin dan bersemangat untuk membuka dan belajar menggunakan Terminal JASUDA bersama-sama. Kami akan mengusahakan segala informasi yang Bapak-bapak butuhkan di JASUDA.NET, ujar Pak Bruce disambut senyum penasaran oleh mereka.
Setelah pertemuan dengan petani rumput laut di Takalar Lama, maka perjalanan dilanjutkan menuju Dusun Ongkowa, Takalar untuk meninjau secara langsung fasilitas pemeliharaan dan pengolahan Rumput Laut disana. Di Dusun Ongkowa ini sudah dikembangkan bibit Rumput Laut E. cottonii yang memiliki keunggulan pertumbuhan thallus (cabang) yang lebih cepat dan besar.
Bibit ini difasilitasi oleh SeaPlant-PENSA yang didapatkan dari petani rumput laut di Maumere, yang telah diuji coba pemeliharaan dibeberapa lokasi di Sulawesi Selatan (P. Kodingareng Keke-Makassar, Mattoanging-Bantaeng, dan Ongkowa-Takalar). Saat ini bibit ini dikenal dengan sebutan Bibit Koja, atau Bibit Jumbo, ada juga yang menyebut bibit PENSA, Cuma karena PENSA maka bibit ini sampai ke Sulawesi Selatan. (iv).