
JENEPONTO, BKM-- Cuaca buruk yang melanda kawasan pesisir Jeneponto sejak dua hari terakhir ini membawa kerugian besar bagi petani rumput laut. Gelombang tinggi serta air pasang mengakibatkan tanaman rumput laut siap panen milik para petani di sepanjang pesisir laut khususnya di Kecamatan Binamu, rusak parah.
Daeng Rahman, petani di Kampung Ujung Batu Desa Bontojai, Kecamatan Tamalatea belum lama ini mengatakan, para petani mengalami kerugian cukup besar. Untuk mengurangi kerugian, mereka hanya bisa memungut patahan serta sisa rumput laut yang masih terikat pada tali untuk dimanfaatkan sebagai bibit baru.
Hal senada disampaikan Hamid, petani di Kampung Tanrusampe Barat, Kecamatan Binamu. Menurut dia, gelombang tinggi terjadi sejak beberapa terakhir ini. Para petani sendiri tidak dapat berbuat banyak dengan fenomena alam ini.
Diketahui, pembudi daya rumput laut di wilayah ini menanam rumput laut rata-rata 300 tali dengan panjang minimal 25 meter.
Dari jumlah tersebut, tanaman rumput laut yang segera memasuki masa panen hampir semuanya. Dengan kejadian ini, petani menelan kerugian hingga puluhan juta rupiah per orangnya.
Petani rumput laut, Hamid mengatakan, untuk satu lajur tali bentangan dengan panjang 25 meter, petani bisa memanen hasil sebanyak 40 kilogram rumput laut basah. Sementara harganya kini di tingkat petani mencapai Rp1500/kg dan yang kering Rp 12000 per kilogram. Jika dikalkulasikan, petani mengalami kerugian Rp60.000 untuk satu tali rumput laut atau satu lajur untuk rumput laut basah, sementara yang kering, petani mengalami kerugian puluhan juta rupiah.
"Rata-rata petani rumput laut di Tanrusampe menanam minimal 500 tali. Jika satu jalur mendapatkan Rp 45.000, berarti petani mengalami kerugian sekitar Rp22,5 juta, belum lagi kerugian kerugian lainnya seperti biaya operasionalnya " ungkap Hamid.
Menurutnya, selain menderita kerugian akibat gagal panen, petani juga terpaksa mengeluarkan modal lagi untuk membeli bibit baru guna penanaman ulang. Harga bibit rumput laut kualitas bagus seharga Rp1.500/kg. Hamid sendiri mengakui, faktor utama yang kerap membuat para petani mengalami kerugian cukup besar adalah kondisi cuaca, Jika kondisi cuaca buruk sewaktu-waktu datang. (krk/cha/C)