
Panas matahari menjadi berkah bagi petani rumput laut di Banjar Pengaud, Desa Suana, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung, Bali. Suhu matahari yang tinggi membuat penjemuran rumput laut mereka bisa dilakukan lebih cepat. Hanya dua hari. "Makin cepat kering, makin cepat bisa dijual," kata Made Sami, salah satu petani rumput laut.
Desa-desa di pesisir pantai timur Nusa Penida menghasilkan dua jenis rumput laut untuk konsumsi dunia, yaitu catony dan spinosum. Made Sami adalah salah satu petani produsen rumput laut tersebut. Dia memiliki lahan seluas 1,5 are dengan sekitar 4.500 bibit rumput laut yang diikat dengan tali. Luas lahan milik Sami ini termasuk kecil, karena rata-rata petani punya 1,5 hingga 15 are. Menurut data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bali, total produksi rumput laut Bali pada 2013 sebanyak 145.597 ton, atau naik hanya 1 persen dibanding hasil pada 2012, 144 ribu ton. Bali adalah satu dari sembilan provinsi penghasil komoditas rumput laut di Indonesia.
Pulau ini menyumbang sekitar 65 persen rumput laut untuk seluruh hasil rumput laut di Bali. Komoditas ini menjadi bahan baku aneka produk penting, seperti pangan dan kosmetik. Dari pulau yang terpisah dari Bali daratan ini, rumput laut diekspor lewat Surabaya ke beberapa negara, di antaranya Jepang, Cina, Taiwan, dan Korea.
Namun, di balik potensi tersebut, petani rumput laut di Nusa Penida terus menghadapi tantangan klise, yaitu masalah penanganan pascapanen. Menurut Made Sami, hampir semua petani masih menjemur rumput laut secara tradisional. Seperti dia, semua petani hanya menjemur rumput laut tersebut di atas terpal plastik seadanya, hal yang membuat rumput laut rentan tercemar sampah dan kerikil.
Petani juga menghadapi pemasaran komoditas yang tidak pasti. Nyoman Candra, petani rumput laut lainnya, menuturkan bahwa penjualan rumput laut kering sangat bergantung pada tengkulak. Petani tak bisa menjual langsung kepada eksportir ataupun pengolah rumput laut karena kapasitas produksi yang terbatas, sedangkan eksportir membutuhkannya dalam jumlah besar. Petani juga tak bisa menjual melalui pemasaran bersama. Sebab, mereka tidak bergabung dalam kelompok. "Dulu pernah ada kelompok, tapi sekarang sudah bubar karena tidak ada kegiatan," ujarnya.
Harga penjualan pun dikendalikan oleh tengkulak. Petani tak bisa melakukan tawar-menawar. "Berapa mereka mau beli, segitu kami jual," Candra menambahkan. Harga rumput laut kering ini berbeda, tergantung jenisnya. Rumput laut jenis spinosum, yang oleh warga disebut bulung, dihargai Rp 5.000 per kg. Adapun catony, yang disebut bulung gondrong, bisa sampai Rp 15 ribu per kg. "Bulung gondrong memang lebih mahal, tapi pembelinya jarang," kata Candra.
Menurut Ketua Yayasan Nusa Penida, Wayan Sukadana, pemerintah perlu membantu penanganan pascapanen melalui serangkaian pelatihan. Karena tiadanya pendampingan dan pelatihan, petani masih menjemur secara tradisional. Petani juga tak bisa membuat para-para untuk menjemur karena tidak punya cukup modal.
Sukadana melanjutkan, pemerintah sebaiknya membangun pabrik pengolahan rumput laut di Nusa Penida. "Jika ada pabrik pengolahan rumput laut di sana, maka petani tak perlu menjual lewat tengkulak. Harga juga akan lebih tinggi," ia menambahkan.
Komitmen pemerintah agar petani di Nusa Penida tidak tergusur oleh pariwisata juga penting. Menurut dia, pariwisata menjadi salah satu ancaman bagi keberadaan petani rumput laut di Nusa Penida. Hal ini sudah terjadi di Nusa Lembongan. Akibat pembangunan hotel, vila, atau fasilitas pariwisata lainnya, petani rumput laut di Nusa Lembongan pun tergusur. "Selain karena lahan dipakai membangun fasilitas pariwisata, rumput laut mereka pun bisa tercemar oleh limbah pariwisata. Jangan sampai hal serupa juga terjadi di Nusa Penida," ujar Sukadana.