Makassar, Kompas - Nelayan di Kabupaten Pangkep dan Selayar, Sulawesi Selatan, mendapat bantuan untuk mengembangkan mata pencaharian alternatif, yakni budidaya rumput laut. Tujuannya, mengurangi aktivitas mereka mencari ikan dengan cara menggunakan bom ikan dan racun.
Pencarian ikan dengan menggunakan bom menyebabkan sebagian besar terumbu karang di kedua kabupaten tersebut rusak. Karena itu, prioritas pelaksanaan program penyelamatan terumbu karang dilangsungkan di kedua wilayah itu.
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sulawesi Selatan (Sulsel) Syahrun mengemukakan hal itu di Makassar, Rabu (23/8). Mata pencaharian alternatif hanyalah salah satu dari sejumlah kegiatan dalam Coral Reef Rehabilitation and Management Program (Coremap) yang dilaksanakan instansi tersebut. Dalam kaitan itu, masing-masing kabupaten mendapat bantuan Rp 6 miliar pada tahun ini.
Dibandingkan dengan kabupaten lain di Sulsel, kedua kabupaten itu memiliki pulau terbanyak dari total 293 pulau di Sulsel.
"Data yang ada menunjukkan 40-60 persen terumbu karang di Sulsel rusak. Luas total terumbu karang di Sulsel adalah 5.970 kilometer bujur sangkar. Kebanyakan terumbu karang yang mengalami kerusakan ada di Pangkep dan Selayar," kata Syahrun lagi.
Populasi berkurang
Kerusakan terumbu karang itu, lanjut Syahrun, telah mengakibatkan populasi beberapa jenis ikan khas, seperti napoleon dan kerapu, berkurang. "Kerusakan terumbu karang juga menyebabkan pulau-pulau dan pesisir mengalami abrasi," ujarnya.
Karena kerusakan terumbu karang terjadi di Pangkep dan Selayar—di banyak pulau di kedua kabupaten itu—anggaran Rp 12 miliar yang merupakan bantuan luar negeri untuk kedua kabupaten tersebut diharapkan dapat menjadi program penyelamatan terumbu karang.
Kegiatan Coremap antara lain, penyadaran masyarakat, penegakan hukum, rehabilitasi terumbu karang, serta pelatihan dan pendidikan.
"Kegiatan akan diutamakan pada pemberian mata pencaharian alternatif bagi para nelayan, seperti budidaya rumput laut. Dengan memiliki mata pencaharian tambahan, kami berharap aktivitas mereka mencari ikan bisa dikurangi. Karena selama ini penggunaan bom ikan yang paling banyak merusak terumbu karang," kata Syahrun.
Selain memberi mata pencaharian alternatif, rehabilitasi terumbu karang, seperti transplantasi terumbu karang, menjadi kegiatan prioritas pula. "Transplantasi masih bisa dilakukan untuk merehabilitasi terumbu karang yang rusak. Makanya, kegiatan ini juga diprioritaskan. Kami juga akan memberdayakan sistem pengawasan masyarakat yang akan membantu aparat penegak hukum," kata Syahrun.
Sejumlah penelitian yang dilakukan Universitas Hasanuddin maupun peneliti asing menunjukkan kondisi terumbu karang di perairan Sulsel rusak parah akibat penangkapan ikan dengan menggunakan bom dan racun.
Departemen Kelautan dan Perikanan juga mencatat perairan di sekitar Selayar dan Selat Makassar sebagai wilayah perairan yang kondisi terumbu karangnya sangat memprihatinkan.