
Bisnis.com, DENPASARPemerintah Provinsi Bali berencana membangun pabrik rumput laut berkapasitas 200.000 ton per tahun untuk meningkatkan nilai jual rumput laut dari Bali.
Dua lokasi alternatif pembangunan pabrik disiapkan, yaitu, di Pulau Nusa Penida dan Nusa Lembongan, Kabupaten Klungkung, atau Sawangan, Kabupaten Badung.
"Masih dalam studi kelayakan mengenai lokasi, karena infonya membutuhkan air cukup besar untuk proses produksi," jelas Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Bali I Made Gunaja, kepada Bisnis, Jumat (13/6/2014).
Menurut Gunaja, nilai investasi pembangunan pabrik yang ditargetkan dibangun pada 2015 itu diperkirakan mencapai Rp200 miliar. Rencananya, kata dia, untuk sumber pendanaannya, Bali akan menawarkan kepada swasta yang berminat .
Gunaja menuturkan keberadaan pabrik rumput laut di Bali sangat mendesak karena selama ini produksinya lebih banyak diekspor dalam bentuk bahan baku.
Sehingga, lanjutnya, nilai jual yang dinikmati petani rumput laut sangat kecil. Dengan adanya pabrik, diharapkan rumput laut dapat diolah terlebih dulu sehingga ada manfaat lebih bagi petani.
"Misalnya rumput laut dijadikan makanan seperti dodol, atau paket buat wisatawan. Kalau nilai jualnya bertambah otomatis dapat menyerap tenaga kerja baru," terangnya.
Wakil Gubernur Bali I Ketut Sudikerta menjelaskan keberadaan pabrik rumput laut bertujuan untuk meningkatkan jumlah produksi, dan penataan kawasan.
Total produksi rumput laut Bali pada 2013 lalu, sebanyak 145.597 ton, atau naik hanya 1% dibandingkan dengan 2012, mencapai 144.000 ton.
Adapun luas lahannya mencapai 1.500 Ha, tetapi yang baru dimanfaatkan hanya 500 Ha tersebar di Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, dan Sawangan, Kabupaten Badung, Amed, Kabupaten Karangasem, dan Gerogak, Kabupaten Buleleng.
Sebagian besar lahan itu merupakan budi daya yang diusahakan oleh kelompok petani rumput laut.
Menurutnya, potensi produksi rumput laut Bali dapat mencapai 300.000 ton per tahun. Sayangnya, lanjut Sudikerta, potensi itu belum dioptimalkan karena tidak adanya pabrik penampung sehingga petani masih membudi dayakan secara tradisional.
Dengan adanya pabrik, dia mengharapkan rantai distribusi rumput laut semakin pendek, dan dapat menampung hasil panen petani lebih banyak.
Selain itu, keberadaan pabrik akan membantu menata kawasan sekitar budi daya yang selama ini sering dianggap kumuh. "Setidaknya petani hanya menyortir dan hasilnya langsung dikirimkan kepada pabrik," tegasnya.