
Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) menawarkan beberapa solusi bagi pengembangan industri rumput laut dalam negeri yang kini banyak menghadapi tantangan.
"Solusi pertama tersedianya teknologi pendukung yang digunakan untuk mengelola rumput laut agar dapat meningkatkan nilai tambah dari bahan yang diproduksi," kata Direktur Eksekutif LPEI I Made Gede Erata dilansir Antara di Jakarta, Selasa (3/6).
Solusi kedua, ekstensifikasi lahan untuk menciptakan kawasan-kawasan pengembangan baru dan pengembangan klaster rumput laut yang berupa pemusatan kegiatan produksi pada lokasi tertentu.
Dia mengatakan bahwa sistem itu bisa memberdayakan subsistem-subsistem agrobisnis rumput laut dari hulu ke hilir serta jasa penunjang yang saling mendukung.
"Ketiga, dukungan permodalan agar kelangsungan bisnis pembudidaya dan pelaku bisnis industri rumput laut dapat terjaga," katanya.
Menurut dia, kerja sama dan komitmen semua pengambil kebijakan mulai dari pusat, daerah dan pelaku utama secara berkesinambungan juga diperlukan untuk mendukung komoditas rumput laut nasional di masa depan.
Sebelumnya, I Made Gede Erata mengatakan berbagai tantangan dalam mengembangkan industri rumput laut Indonesia agar bisa menjadi pemain utama dalam industri tersebut di tingkat global, antara lain belum maksimalnya kegiatan industri pengolahan rumput laut.
"Ekspor rumput laut Indonesia saat ini masih didominasi bahan baku kering," katanya.
Selain itu, hanya sebagian kecil yang sudah diolah menjadi bahan setengah jadi dan bahan jadi. Ke dua, kurangnya diversifikasi produk rumput laut karena selama ini dikenal sebagai salah satu tumbuhan yang hanya dapat dikonsumsi saja.
Menurut dia, padahal rumput laut memiliki prospek bisnis lain yang menjanjikan, terutama rumput laut jenis brown algae dan green alga yang dapat dikembangkan untuk bahan dasar industri kosmetik.
Sementara itu, hingga April 2014, LPEI telah memberikan pembiayaan untuk pengembangan komoditas rumput laut sebesar Rp70,5 miliar.