
JAKARTA, suaramerdeka.com - Sebagai negara maritim, Indonesia mempunyai komoditas unggulan yakni rumput laut. Sebanyak 70% produksi rumput laut nasional diekspor setiap tahunnya.
Wakil Ketua Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) Indrani Iskak menyatakan industri rumput laut yang sebagian besar merupakan bisnis keluarga mempunyai peran ekspor cukup besar.
"30% produksi rumput laut diserap di dalam negeri, sisanya diekspor. Kalau tidak ada serapan internasional petani pasti ngga mau tanam (rumput laut) karena harga pasti sangat murah dan stok akhirnya menjadi banyak," kata dia saat Seminar Nasional Rumput Laut 'Potensi dan Tantangan Ekspor Rumput Laut sebagai Komoditas Unggulan Indonesia' di Jakarta, Selasa (3/6).
Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) produksi budidaya rumput laut pada 2013 mencapai 8,2 juta ton. Angka ini lebih besar dari target yang telah ditetapkan pemerintah sebelumnya sebesar 7,5 juta ton. Dia menambahkan dari sisi harga, sejak krisis tahun 2008 di mana harga rumput laut mencapai Rp 30.000 per kilogram, banyak pelaku yang terguncang.
Pasalnya, konsumen mensubstitusinya dengan hidrokoloid. Di mana, hal itu perlu diatasi dengan metode teknik budidaya, penanganan budaya dan teknologinya. "Industri rumput laut di Indonesia adalah copy paste dari Filipina, kita ketinggalan dari Filipina. Padahal pabrik rumput laut terbesar ada di Indonesia," ungkapnya.
Dia menyebutkan produk hasil budidaya rumput laut yakni agar-agar teknologinya diciptakan oleh Jepang. Turunan produk lainnya, karagenan teknologinya diciptakan oleh Filipina. Dia menilai mahalnya harga produk turunan rumput laut membuat demand di tanah air berkurang.
"Harga karagenan mahal padahal bisa untuk pengenyal alami untuk bakso. Sosis adalah salah satu produk yang menggunakan karagenan. Konsumsi karagenan di dalam negeri harus ditingkatkan agar industri tumbuh karena permintaan naik," tuturnya.