
Ekspor rumput laut dari Indonesia sebagian besar dalam bentuk rumput laut kering. Bagian yang lain dari eksport rumput laut Indonesia berbentuk ekstrak rumput laut seperti ATC, SRC, dan Carageenan (baca: karaginan). Perbandingan berdasarkan hasil survey pasar yang dilakukan oleh SeaPlant.Network tahun 2005, Indonesia mengekspor rumput laut kering 69.000 ton per tahun sedangkan ekstrak rumput laut (ATC, SRC, Carageenan) hanya 4.014 ton/tahun. Jika untuk mendapatkan ekstrak ATC dibutuhkan 3 kali bahan mentah (3:1) sedang untuk SRC (Semi Rafine Carageenan) 5 kali bahan mentah (5:1), dan karena jumlah pengolah carageenan tidak terlalu banyak, pemakaian raw material sebesar 10:1 belum terlalu signifikan pada perkiraan jumlah produksi, maka dapat diperkirakan bahwa produksi rumput laut Indonesia yang dikonsentrasikan kepada pembuatan ekstrak adalah sebesar angka tersebut dibandingkan dengan total produksi rumput laut Indonesia pada tahun 2005, itu berarti perbandingan antara bahan mentah / raw material (baca: row material) adalah sebesar: 4.014 ton x 4= 16.056 ton. Dengan demikian secara kasar dapat diperkirakan produksi rumput laut Indonesia pada tahun 2005 sebesar 85.040 ton. Nilai ekspor yang dihasilkannya sebesar 50,5 juta dollar Amerika Serikat. Rupiahnya kira-kira: 465 milyar.
Banyak ya? Itu angka yang besar apalagi jika ternyata semua itu bisa menghasilkan uang tunai: buat petani, buat pengusaha, buat pemerintah. Tapi, ada tapinya. Ternyata produksi raw material kita yang banyak itu belum menghasilkan uang sebanyak yang bisa dihasilkan Philipina, yang ternyata sudah kita ungguli dalam angka produksi maupun ekspor rumput laut. Bayangkan, export raw material dari Filipina pada tahun 2005 sebesar 21.267 ton, sedang ekstrak yang di eksport dari Filipina sebesar 9.405 ton. Dengan memakai perhitungan yang sama, perkiraan jumlah produksi rumput laut Filipina sebesar 21.000 + (9.405x 4) = 58.887 ton per tahun. Nilai Eskportnya kira-kira 71,5 juta dollar, kira-kira 657,800 milyar.
Jauh bedanya ya? Apa sebabnya? Ada beberapa sebab tentu saja. Pertama: Filipina lebih banyak mengolah rumput lautnya menjadi ekstrak di dalam negeri sebelum dieksport. Jadi hanya sedikit saja jumlah rumput laut yang dikirim sebagai bahan mentah. Coba bandingkan: harga pasaran dunia untuk ATC (Alkali Trated Cottonii) 2.7-3 Dollar AS per kilogram, jika memakai nilai tukar Rp. 9200 untuk 1 dollar maka nilai ATC adalah Rp. 24,840/kg. Sedang raw material untuk cottonii meski harga ekspornya fluktuatif, tapi tidak sampai menembus harga Rp. 6000 pada beberapa bulan terakhir. Tentu saja ini akan membuat perbedaan besar.
Kedua: ekstrak rumput laut dari Filipina kualitasnya lebih baik dari kualitas ekstrak rumput laut Indonesia. Harga ekstraksi rumput laut menjadi semakin baik jika prosesnya semakin panjang. Artinya harga SRC (semi refine carageenan) lebih baik dari ATC dan harga carageenan ( baca: karaginan) lebih baik dari harga SRC. Ada juga kelas-kelas harga dalam setiap jenis ekstraksi ini, di mana kualitas ekstraksi rumput laut Filipina menempati kelas paling tinggi, sehingga gampang diduga bahwa harga ekstrak rumput laut Filipina punya daya jual yang lebih baik daripada yang dihasilkan Indonesia. Hal-hal inilah sedikit banyak yang menyebabkan nilai ekspor rumput laut Filipina jauh melebihi nilai eksport Indonesia karena seperti yang sudah dipaparkan di atas, harga jual ekstrak rumput laut jauh lebih tinggi daripada harga raw material.
Nah, kalau semua informasi ini kita kaitkan, pertanyaannya untuk kita yang terlibat dalam rantai perdagangan rumput laut adalah: Kapan ya kita mengekspor rumput laut ekstraksi lebih banyak dari pada bahan mentah semata-mata? Tapi jelas ada banyak hal pula yang saling mempengaruhi menyangkut pasar ekstrak rumput laut di luar negeri, jadi kita pun tidak bisa langsung berkesimpulan bahwa kita harus dengan segera melakukan eksport ekstrak rumput laut. Tapi di sisi lain, sudah seharusnya jika kita berkeinginan untuk mulai mengolah bahan mentah di sini, si rumah sendiri sebelum mengekspornya ke pasar dunia dalam bentuk ekstrak rumput laut di mana keterbukaan menjadi unsur pengikat bagi semua pihak yang berkepentingan: petani, pengusaha, dan pemerintahan daerah. (lv086)