
SURYA Online, SUMENEP - Memasuki musim kemarau, petani rumput laut di Desa Padike, Kecamatan Talango, Sumenep, mengeluh lantaran tanaman rumput lautnya tidak membawa berkah. Basanya mereka, mendapatkan keuntungan jutaan rupiah, kali ini kecewa, lantaran hasil panennya tidak sesuai harapan.
"Sudah dua pekan hasil panen kami menurun drastis. Terus terang kami rugi karena hasil yang kami dapat tidak sesuai dengan biaya yang kami keluarkan,” kata Silaiman (30), salah seorang petani rumput, kepada Surya, Senin (2/6/2014).
Menurutnya, turunnya perolehan panen kali ini karena perobahan cuaca yang melanda daerah Sumenep, sehingga rumput laut yang ditanam petani tidak berkembang dengan baik. Bahkan banyak rumput laut milik petani musnah tak bisa dipanen.
Sedangkan Para petani rumput laut di Padike, biasanya menabur bibit rumput laut pada ancak atau kerambah sebanyak 2 kuwintal dalam sekali tanam. Dengan bibit sebanyak itu, para petani akan memperoleh hasil panen sebanyak 4-5 kuwintal rumput laut.
Petani yang terlanjur menabur bibit rumput laut, terpaksa memanen tanaman lebih awal, untuk menghindari kerugian yang lebih parah. Karena bila rumput lautnya terus dibiarkan tidak dipanen, tanamannya akan musnah.
Padahal ukuran normal untuk memanen rumput laut membutuhkan waktu 30 hingga 40 hari. Namun karena terjadi anomali cuaca, para petani terpaksa memanen rumputnya lautnya lebih awal, bahkan ada yang baru berumur satu minggu sudah dipanen.
Setiap kali tanam, petani rumput laut mengeluarkan biaya sekitar Rp 455 ribu per ancak, dengan modal sebanyak itu petani rumput laut akan meraup keuntungan antara Rp 600 hingga 700 ribu. Namun pada musim tanam kali ini, para petani merugi antara Rp 200 hingga Rp 300 ribu per ancak, sehingga petani rumput beralih pekerjaan menanam kacang-kacangan.