
KUPANG. FBC- Pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) selain getol memperhatikan pengembangan sektor peternakan, saat ini juga berpaling melihat prospek cerah potensi kelautan dan perikanan. Karena itu, untuk meningkatkan pendapatan masyarakat terutama di bidang pembudidaya rumput laut , Pemerintah Provinsi NTT akan membuka kawasan atau klaster pengolahan rumput laut di daerah itu. Dua klaster akan dibangun di Flores dan Lembata.
“Memang rencananya akan dibangun lima klaster di seluruh wilayah NTT, Klaster tersebut hanya difokuskan pada lima titik dari 21 kabupaten /kota potensial. Niat inipun harus bisa sejalan dalam satu komitmen bersama pemerintah kabupaten/kota, ” kata Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi NTT Abraham Maulaka yang dihubungi di Kupang, Jumat (9/5).
Mantan wakil Bupati Alor ini mengatakan, sudah saatnya rumput laut tidak hanya diproduksi, namun diolah dengan baik sebelum dipasarkan sehingga nilainya menjadi lebih tinggi.
Menurutnya, tidak semua kabupaten /kota dijadikan klaster pengolahan rumput laut, namun hanya lima titik saja. Nantinya, di lima klaster itu pemerintah akan pabrik pengolahan Rumput Laut. Tapi itu juga bisa terlaksana dengan baik jika ada komitmen kuat dari Bupati/walikota untuk bersama-sama melaksanakan hal ini.
Abraham menjelaskan, kelima klaster tersebut dua terdapat di Flores dan Lembata, yakni di Lembata untuk kabupaten Alor, Flores Timur dan Lembata sendiri dan di Ende atau Sikka untuk kabupaten Manggarai Barat, Manggarai,Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende dan Sikka.
Sementara tiga klaster lainnya adalah di Kabupaten Kupang untuk seluruh daratan Pulau Timor dan Rote, klaster di Sabu untuk kabupaten Sabu Raijua dan terakit di Sumba Timur untuk kabupaten yang ada di Pulau Sumba.
“Yang dimaksudkan dengan klaster pengolahan adalah pabrik pengolahan rumput laut. Sehingga ketika dipanen rumput laut tidak lagi dibawa keluar daerah secara gelondongan , tetapi diolah terlebih dahulu di klaster pengolahan tersebut menjadi bahan setengah jadi,”jelasnya sambil menambahkan, rencana ini sudah tertera dalam Rod Map pengembangan perikanan dan kelautan di NTT.
Maulaka menyebutkan, hingga sekarang pemanfaatan lahan rumput laut belum secara signifikant. Dari sekian lahan potensial di NTT sebanyak 42 .053 hektare yang baru dimanfaatakan hanya sekitar 976 ha.
“Dengan adanya klaster pengolahan, tentunya akan mendorong pengembangan budidaya rumput laut di NTT, karena produksinya langsung ditangani sebelum dikirim ke luar daerah,” katanya. (Oni)