
Budidaya rumput laut berpotensi terganjal wilayah yang tidak menjaga keberlangsungan produksi.
Sebab banyak wilayah yang sebelumnya merupakan area budidaya rumput laut, kini dalam perkembangannya tidak sesuai.
Ketua Umum Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) Safari Azis mengatakan untuk menjaga keberlangsungan produksi rumput laut perlu pemetaan wilayah.
Menurut dia, zonasi diperlukan mengingat kondisi di wilayah-wilayah yang dulu dinilai potensial, sekarang tidak sesuai untuk budidaya rumput laut.
‘’Seperti pengembangan sektor pariwisata yang mendekati lokasi budidaya rumput laut. Misalnya di Bali, pembangunan hotel-hotel mulai bergeser ke daerah di sekitar pantai. Padahal daerah itu merupakan tempat untuk menjemur rumput laut. Makanya wajar kalau masyarakat dan pembudidaya di wilayah tersebut mengajukan protes,’’ tutur dia.
Selain di Bali, rencana pembangunan smelter serta pembangkit listrik juga bisa menggeser budidaya rumput laut. Dua tahun terakhir, investor beramai-ramai membidik dua sektor tersebut terutama di wilayah Sulawesi dan Jatim.
‘’Tentu rencana ini dapat menggeser zonasi aktivitas budidaya rumput laut. Sebab dalam pembangunannya membutuhkan reklamasi pantai,’’ kata dia.
Oleh karena itu, ia menilai perlu dikembangkan zonasi khusus untuk mendorong budidaya rumput laut. Selain itu, zonasi kawasan produksi dapat menjaga keberlangsungan produksi. ‘’Terpenting, bisa diperoleh data produksi yang lebih akurat,’’ tuturnya.
Berdasar data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang diklaim produksi rumput laut Indonesia 2013 mencapai 8,2 juta ton, ia menanggapi, jumlah itu tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.
Alasannya, Indonesia lebih banyak mengekspor rumput laut kering, sedangkan penyerapan oleh industri nasional terbilang kecil.