
Hari itu wajah nelayan di Sumber Kima berseri-seri. Betapa tidak usahanya yang gigih dalam membudidayakan rumput laut selama tiga tahun akhirnya menuai hasil yang menggembirakan. Pada hari Kamis (1/06) dilakukan panen raya yang dihadiri Bupati Buleleng, Putu Bagiada. Diperkirakan sekitar 30 ton bakal dipanen saat itu.
Sebelum melakukan panen secara simbolis Bupati mengungkapkan lagi potensi bahari yang dimiliki Kabupaten Buleleng. Dari potensi itu dikatakan potensi lestari penangkapan ikan sebesar 123.358,0 ton/ tahun. Sedang potensi perikanan budidaya laut adalah 1000 ha yang terdiri dari 500 ha untuk kerapu dan bandeng, 250 ha untuk rumput laut dan 250 ha untuk mutiara. Namun besarnya potensi itu diakui oleh Bupati belum dikelola secara optimal. Hal itu disebabkan oleh terbatasnya kualitas sumberdaya manusia baik dalam mengakses teknologi, permodalan maupun dalam pemasaran.
Sehubungan dengan itu, dalam mengembangkan budidaya rumput laut di Indonesia, Departemen Kelautan dan Perikanan RI memilih lima kabupaten yang salah satunya adalah Kabupaten Buleleng dan telah dilakukan MoU antara Bupati Buleleng, BRI Cabang Singaraja dan P.T. Kapal Api Group yang kegiatannya dilaksanakan pada tahun 2006. Lanjut dikatakan prospek dalam mengembangkan budidaya rumput laut cukup menjanjikan karena potensi lahan mendukung, tehnologi budidayanya sederhana, umur budidaya relatif pendek yakni 45 hari dan peluang pasar cukup terbuka yang digunakan sebagai bahan baku industri farmasi, makanan dan kosmetik.
Dibalik kesuksesan panen raya rumput laut itu tak bisa dilepaskan dari kegigihan seorang nelayan Daeng Hayak. Dialah nelayan yang paling gigih membudidaakan rumput laut di wilayah Sumber Kima. Kegagalannya berkali-kali membudidayakan rumput laut tak membuatnya putus asa. Dalam perjuangannya itu ia selalu merugi. Pernah membeli bibit rumput laut di Madura, setelah dibudidayakan, gagal total. Ada juga sesama nelayan memberinya sekwintal rumput laut, namun hasilnya sama saja.
Tapi kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, begitulah kata pepatah. Maka pada Juli 2005, ia bergabung dengan program penanaman rumput laut binaan Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Pesisir (FKMPP ) Taman Nasional Bali Barat dan membuatnya melenggang terbang ke Maumere mengikuti studi banding. Pulang dari Maumere, Daeng membawa oleh-oleh sepuluh kilogram rumput laut untuk dikembangkan di Sumber Kima. Hasilnya mencengangkan, budidaya rumput laut asal Maumere itu berkembang baik menjadi satu kwintal. Kemudian perkembangan selanjutnya terus meningkat.
Hal itu mendorong nelayan lainnya untuk kembali membudidayakan rumput laut. Untuk sekarang ini nelayan yang membudidayakan rumput laut sejumlah 30 orang. Karena sukses, nelayan lainnya akan terus bergabung. Tapi kami terhambat oleh modal, akunya.
Selain panen raya, saat itu diadakan juga penandatanganan MoU antara Taman Nasional Bali Barat (TNBB) dan Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Pesisir sebagai landasan dalam melakukan kegiatan-kegiatan bersama di kawasan TNBB. Kemudian dilakukan juga penandatanganan kontrak kerjasama pemasaran dan permodalan budidaya rumput laut oleh FKMPP dan CV.Kembang Kidul.