
Salah satu lokasi konsentrasi rumput laut di teluk Maumere adalah Kojadoi. Dan bahkan dari Kojadoilah rumput laut di tempat lain seperti di Lewoleba dan Ileape (kabupaten Lembata), Kaburea (kabupaten Ende), dan tempat lainnya berkembang karena mereka justru banyak membeli bibit rumput laut dari Kojadoi untuk dikembangkan di daerah masing-masing.
Rumput laut di Kojadoi dan sekitarnya mulai dikembangkan lagi pada tahun 2002, setelah hancur pada tahun 1992 akibat gempa bumi dan tsunami. Budidaya ini berkembang kembali setelah difasilitasi oleh Coremap-AusAID yang memberikan dana ke koperasi di desa – desa untuk pengembangan mata pencaharian alternatip (rumput laut). Saat ini kebanyakan penduduk Kojadoi dan sekitarnya yang sebelumnya adalah nelayan dan petani ladang sudah menjadikan rumput laut sebagai mata pencaharian pokok karena usaha ini terbukti memberikan penghasilan yang lumayan. Penghasilan 1 juta ke atas setiap bulannya bukan lagi menjadi hal luar biasa bagi orang Kojadoi. Dari penghasilan tersebut mereka bisa membangun rumah baru, rehab rumah, membeli motor laut, sampan, TV, matrix soccer, menyimpan di bank dan koperasi, dan memperbaiki kehidupan keluarga.
Dari aspek teknik budidaya, petani Kojadoi sebenarnya sudah trampil akan tetapi teknik budidaya yang disampaikan oleh Pensa melalui field fasilitator (Pak Hanawi) selalu diadopsi dan diikuti demi perbaikan. Bahkan dari pengalaman berbudidaya, mereka menemukan banyak hal baru sebagai hasil modifikasi dari informasi yang diterima dengan kondisi lokasi masing-masing. Hal yang menonjol bagi masyarakat Kojadoi adalah karakter mereka yang terbuka dan mau maju. Karena itu hal baru yang disampaikan selalu dicoba dan dipraktekan. Dari sini mereka akhirnya mengalami sendiri dan yakin akan apa yang disampaikan karena terbukti dari pengalaman sendiri juga.
Dalam hal penjemuran rumput laut, petani di Kojadoi sudah banyak memiliki para-para dan dari 32 petani dampingan di Kojadoi, semuanya sudah melakukan penjemuran dengan cara gantung. Cara ini juga sudah diikuti oleh petani di luar kelompok dampingan. Dari praktek mereka sendiri terbukti bahwa cara jemur dengan gantung menghasilkan rumput laut yang lebih bagus (bersih, kering dan lebih berat), dan lama penjemuran justru lebih singkat (3 hari bisa diangkat). Indikator peningkatan berat rumput laut dengan cara jemur gantung adalah: karung ban ijo yang selama ini berisi 70-80 kg/karung, kalau diisi dengan rumput laut yang dijemur dengan cara gantung bisa berisi 90 kg/karung. Harga beli rumput laut di tingkat petani sudah berdasarkan mutu (cara jemur). Yang dijemur di pasir dibeli dengan harga Rp 4.000/kg, dijemur di para-para harganya Rp 4.250/kg, sedangkan yang dijemur dengan cara gantung Rp 4.400/kg.
Sedangkan perkembangan koperasi Koja Jaya yang cukup signifikan adalah setelah pengurusnya mengikuti pelatihan managemen koperasi di Maumere, 19 – 23 Juni 2006, mereka mulai membenahi pembukuan yaitu membuat neraca koperasi pada tanggal 27 Juni 2006 ini. Dan berkat fasiltasi Pensa, Koperasi Koja Jaya sudah memiliki badan hukum. Koperasi juga sudah sepakat untuk memperluas usahanya, yaitu melakukan pembelian rumput laut dari petani dan membuka toko untuk menyediakan material rumput laut.
Metode jemur dengan cara gantung ini sudah mulai diadopsi oleh 5 anggota kelompok di Dambila, yang sebelumnya menjemur rumput lautnya di para-para.