
Ambon - Kementerian Perindustrian mendukung penghentian ekspor rumput laut secara bertahap. Pasalnya, hasil rumput laut yang melimpah ruah di negeri ini hanya bisa terserap pasar di dalam negeri sebesar 25% saja, sedangkan sisanya sebanyak 75% diekspor dalam bentuk baihan mentah.
Wakil Menteri Perindustrian, Alex SW Retraubun mengungkapkan, penghentian ekspor rumput laut secara bertahap itu ditujukan agar produk rumput laut dalam negeri bisa bersaing dengan hasil laut dari negara lain. Lebih jauh lagi Alex memaparkan wilayah Ambon dan sekitamya mempunyai potensi alam yang sangat besar untuk menjadi Lumbung Ikan Nasional (LIN) dan rumput laut, karena budidaya rumput laut itu bisa dipanen sepanjang tahun tanpa mengenal musim.
Data pemerintah menyebutkan, produksi rumput laut nasional 2011 mencapai 4,3 juta ton dan tahun ini ditargetkan meningkat 5,1 juta ton dan diharapkan pada 2014 nanti bisa mencapai 10 juta ton. "Dengan data yang menggembirakan tersebut, diharapkan bisa memacu masyarakat pembudidaya rumput laut untuk memacu produksinya lagi," tegas Alex pada acara Forum Koordinasi Lintas Sektor Kementerian Perindustrian Dengan Dunia Usaha Dan Instansi Terkait, di Ambon, Selasa (29/5).
Di tempat yang sama, Direktur Usaha dan investasi Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Kementrian Kelautan Dan Perikanan (KKP), Made Artajaya, mengungkapkan hal yang senada. Dia mengatakan, tahun depan pemerintah rencananya akan menghentikan ekspor rumput laut kering secara bertahap, tidak secara langsung. Alasannya karena kalau dihentikan secara langsung akan membuat sulit para pelaku usaha yang bergerak di bidang itu.
Menurut dia, penghentian ekspor rumput laut mentah dilakukan untuk lebih meningkatkan nilai tambah, dan menghidupkan industri rumput laut dalam negeri. Kebijakan ini diharapkan produk kosmetik seperti pemutih (whitening), sabun, dan lainnya diproduksi dalam negeri lalu diekspor.
Made jiiga mengatakan, kebijakan tersebut merupakan stimulus nonfinansial yang luar biasa nilainya. Made mengakui bahwa penghentian ekspor akan diikuti dengan peningkatan produksi melalui dua program. Pertama, minapolitan rumput laut di beberapa daerah. Kedua, Program Usaha Mina Pedesaan (PUMP) berupa bantuan budidaya rumput laut kepada masyarakat.
Dia lalu menjelaskan, bahwa sejak wacana tersebut dipaparkan di beberapa kesempatan, industri kosmetik di Filipina khawatir. "Karena memang 80% industri besar di Filipina bahan bakunya dari Indonesia," katanya.
Menurut dia, ekspor mentah yang dilakukan selama ini, imbasnya pada nilai produk selalu dimainkan industri diYiegara buyers. Pada tahap awal penyetopan ekspor rumput laut mentah, pemerintah mensinergikan daerah penghasil dan industri. "Kita tahu 80% rumput laut Indonesia dari KTI. Sementara industrinya ada di Jawa Timur. Nanti kita sinergikan sambil membangun industri pengolahan di daerah penghasil," urainya.
Made juga mengatakan, dari total produksi rumput laut yang mencapai 3,9 juta ton setara basah, 80% dari kawasan timur Indonesia. Di Ambon menurut dia, pada 2010 potensi budidaya rumput laut pesisir pantai mencapai 193 ribu hektare ditambah 105 ribu hektare tambak mampu menghasilkan 1,5 it ton rumput laut. "Produksi tersebut terdiri atas jenis cottonii 108 juta ton, 430 ribu ton gracilaria," ucapnya.
Tahun ini, prognosa produksi rumput laut basah mencapai 2,4 jt ton atau naik 24% (setara kenaikan 9 juta ton) dibandingkan produksi tahun lalu.
"Jadi tidak mulukmuluk kalau kita menargetkan pertumbuhan produksi sampai 353% pada 2014. Kalau itu terjadi maka pada 2015 Sulsel jadi produsen terbesar rumput laut didunia,"jelasnya.
Sementara itu, Gubernur Provinsi Maluku, Karel Albert Rahahalu, memaparkan produksi rumput laut yang dihasilkan oleh para petani untuk sekali panen setiap bulannya mencapai 504 ton, dengan harga jual Rp7.000 hingga Rp11.000 per kilogram (kering).
"Produksi rumput laut setiap bulan sekitar 504 ton dimana harga per kilogram sangat bervariasi, minimal Rp7.500 per kilo, dan harga maksimal Rp11.000per kilo," kata Karel