
Meskipun rumput laut tumbuhnya nanti setelah di dalam air, namun kali ini air yang datang adalah air yang tidak disenangi oleh rumput laut sehingga mengakibatkan rumput laut tersebut jadi layu kemudian mati dan bahkan sebagian besar sudah hilang entah kemana. Banjir bandang yang membawa air dengan endapan lumpur dari gunung membuat bentangan bentangan jadi rusak dan bahkan hilang ke laut.
Kegembiraan Paletteri Dg. Lewa yang akan memanen rumput lautnya pekan ini yang keurang lebih 700 bentangan sudah tidak nampak lagi di raut wajahnya. Dia memperkirakan dalam setiap bentangan akan menghasilkan 7 kg kering rumput laut. Hal ini berarti bahwa Dg. Lewa akan mendapatkan hasil yang banyak, betapa tidak jika dihitung akan menunjukkan hasil yaitu 700 x 7 = 4900 kg x 4700 = Rp. 23.030.000,00 (pendapatan kotor). Namun semua impian itu sudah sirna dengan banjir bandang yang melanda kebun rumput lautnya sejak malam selasa, 20 Juni 2006. cerita-cerita ini bukan hanya dialami oleh Paletteri Dg. Lewa ratusan petani-petani seperti Dg. Lewa mengalami keadaan tersebut. Dari 8 daerah yang dilanda bencana banjir bandang, 3 diantaranya adalah daerah dimana IFC PENSA menjalankan programnya.
Berdasarkan hasil pendataan sementara hari Sabtu, 24 Juni 2006 sudah terdapat 7.055 bentang yang hilang dan 40.426 yang rusak. Ini belum termasuk bentangan induk yang juga hilang dan sebagian besar tidak bisa dipakai lagi karena putus akibat hempasan batang kayu yang ikut hanyut ke laut, juga perahu perahu dan para-para penjemuran rumput laut. Bukan hanya bentangan yang hilang dan rusak akan tetapi yang paling penting juga adalah rumput lautnya yang ikut hilang. Hal ini sangat menyulitkan bagi para petani karena mereka akan mengalami masalah pengadaan bibit. Hal ini karena hampir semua daerah pesisir yang ditanami rumput laut terkena banjir sehingga rumput-rumput laut tersebut mati dan sebgian besar hilang.
Jika diperhitungkan dari 3 kabupaten yaitu Jeneponto yang kerusakannya tersebar di 2 kecamatan dan 9 desa, Bantaeng dengan 3 kecamatan dan 6 desa dan Bulukumba di 3 kecamatan dan 7 desa. Jumlah kerusakan tersebut mencapai Rp. 2,752,230,230.00. perhitungan ini belum mencakup jumlah keseluruhan petani rumput laut di daerah pesisir di 3 kabupaten tersebut. Banyak diantara mereka tidak sanggup lagi menjawab pertanyaan ketika kami mendatangi dan menanyakan keadaan rumput lautnya. Mereka tida bisa lagi berfikir secara jernih kemana lagi akan mendapatkan modal awal lagi untuk bisa melanjutkan usaha mereka. “yang paling penting bagi kami adalah bagaimana petani itu tumbuh lagi semangatnya untuk melanjutkan usahanya di rumput laut”. Demikian ungkapan yang dilontarkan oleh Karaeng Baharuddin Nai yang juga ketua kelompok tani Sinar Sejahtera Tino, Jeneponto.
Bisa kita memperhitungkan untuk membuat satu lokasi bentangan induk dengan kapasitas isi bentangan 200 dan panjang bentangan 25 meter pada kedalaman air sampai pada 15 meter membutuhkan investasi Rp 5.000.000,00- Rp 8.000.000,00. Hal ini yand dialami oleh petani petani rumput laut di kecamatan bontobahari, Bulukumba. Bahkan terdapat sebagian lokasi yang sudah tidak bisa lagi ditanami akibat endapan umpur yang tinggi di daerah pesisir. Praktis bahwa akan ada lagi petani yang tida mempunyai kebun rumput laut akibat tidak adanya lokasi yang tersedia lagi. Selain itu, pada umumnya masyarakat pesisir terkhusus juga bagi petani rumput laut adalah tipelogi masyarakat yang konsumtif sehingga jarang diantara mereka yang mempunyai tabungan atau simpanan. Sehingga hal ini sangat menyulitkan bagi mereka untuk memulai lagi usahanya.
Dalam keadaan yang seperti ini maka praktik ala tengkulak akan tumbuh subur, dimana petani yang membutuhkan modal awal lagi untuk menanam rumput laut akan meminjam uang kepada pengumpul atau tokoh masyarakat. Nantinya mereka akan tercekik oleh utang mereka karena mereka tidak punya pilihan lain lagi untuk menjual rumput laut ke pasar atau pembeli lain dan juga harganya dipastikan akan lebih rendah dari harga pada umumnya di petani yang dengan kualitas rumput laut yang sama. Keadaan ini bagaikan benang kusut yang bagi masyarakat sangat sulit lagi dimana harus memulai tanpa ada hutang. Mungkin pilihan itu pahit namun harus ditelan karena mungkin denga pilihan itu mereka berharap masih bisa melanjutkan usahanya sebagai petani rumput laut.