
Pengalaman baru, adalah bagian yang tak terpisahkan dari keputusan untuk melakukan sesuatu yang baru. Kisah tentang pengalaman baru kali ini adalah tentang pengalaman baru Bapak Daniel, calon pejabat Deputi Program Manager PENSA Agribusiness, dan beberapa petani rumput laut di Talakar Lama yang mencoba menanam rumput laut jenis Tambalang, yang di untuk daerah Sulawesi Selatan lebih dikenal dengan nama bibit Maumere.
“O.. Begitu Cara Tanamnya..”
Minggu ke dua bulan Juni 2006 yang lalu, kantor Pensa Agribusiness di Makassar kedatangan seorang tamu, pak Daniel… Datang jauh-jauh dari Negeri Inggris, kedatangan pak Daniel adalah untuk mengenal lebih dekat kegiatan yang dilaksanakan program Agribusiness. Pasti rasanya kurang ‘pas’ kalau ingin kenal dekat tapi hanya berkunjung ke kantor saja. Karena itu pak Daniel pun, sebagaimana kepada para tamu yang lain, diantar ke lokasi-lokasi di mana kegiatan pendampingan teknis kepada UKM oleh PENSA sedang berlangsung.
Sebenarnya daerah cakupan kerja PENSA Agribusiness cukup menyebar dalam wilayah Sulawesi Selatan: ada Program Kakao di wilayah Sulawesi Selatan Bagian Utara, dan Luwu; bahkan dalam wilayah Sulwesi Barat. Ada Program Integrasi jagung dan Unggas yang meliputi Wilayah Selatan Propinsi Sulawesi Selatan, mulai dari Gowa sampai Sinjai. Dan wilayah Utara yang mencakup kabupaten Parepare, Sidrap,Bone, Soppeng, Wajo dan Pinrang. Untuk program pendampingan bagi UKM rumput laut sendiri saat ini terkonsentrasi pada wilayah Utara Sulawesi Selatan.
Karena waktu yang sangat sempit yang dimiliki pak Daniel dalam kunjungan ini , perjalanan kunjugan lapangan kali ini hanya direncanakan ke daerah yang paling dekat dengan Makassar yaitu Takalar. Di wilayah kabupaten Takalar ini, dua program PENSA telah memberikan pendampingan teknis kepada UKM yaitu untuk sektor jagung dan rumput laut.
Sudah menjelang sore ketika kami sampai di wilayah Takalar Lama, di terminal Jasuda untuk daerah Takalar. Di tempat ini, pak Daniel bertemu dan mendapat penjelasan langsung tentang keberadaan terminal Jasuda di tempat tersebut, fungsi dan perannya bagi kegiatan petani rumput laut di Takalar Lama dari Daeng Rangka salah satu nara sumber lapangan PENSA.
Dari terminal Jasuda itu, kami menuju ke lokasi penanaman rumput laut yang jaraknya kira-kira 2 km. Di sana pak Daniel berkesempatan bertemu dengan petani rumput laut, dan untuk pertama kali melihat “seaweed” (baca: siwit) ketika masih segar.
Pak Daniel menanyakan banyak hal tentang rumput laut, bukan hanya jumlah petani, berapa harga jual tapi juga hal-hal yang selalu membuat petani terheran-heran, “ yaitu: “bagaimana cara menanam rumput laut?” Rumput laut ini meski sangat terkenal, tapi tidak banyak orang yang paham bahwa rumput laut tidak ‘ditanam’ ke dalam pasir untuk membuatnya tumbuh. Tapi diikat pada tali penyangga dan ‘digantung’ di laut.
Sayangnya angin yang cukup keras pada saat itu, membuat kami ragu untuk membawa pak Daniel pergi ke ‘kebun’ untuk melihat sendiri bagaimana rumput laut ditanam. Sudah hamper magrib ketika kami meninggalkan pantai, dengan pengalaman baru Pak Daniel : “oooo begitu ya cara tanamnya!”
“Beda!”
Masih dalam rangkaian perjalanan tim PENSA pada tanggal 16 Juni 2006 itu, di tempat yang sama, di Takalar Lama itu, kami berkesempatan bertemu dengan beberapa petani yang sedang mengembangkan rumput laut jenis yang baru, yang diperkenalkan oleh PENSA. Bibit yang baru ini adalah salah satu bagian kontribusi program Seaplant.net (baca: siplantnet) PENSA dalam kegiatannya memberi pendampingan teknis kepada usaha kecil dan menengah rumput laut.
Bibit ini dibeli dari Ongkoa, sebuah kampung yang masih berada dalam wilayah Kabupaten Takalar, salah satu tempat di mana PENSA pernah mengadakan ujicoba bibit baru dari Maumere ini. Tapi jangan salah sangka, pengembangan rumput laut jenis baru di Takalar Lama ini bukan merupakan bagian dari program uji coba bibit. Pengadaan dan pengembangan bibit baru di Takalar Lama merupakan inisiatif masyarakat.
Ketika tim PENSA berkunjung, kami bisa melihat bahwa bibit baru ini menunjukkan pertumbuhan yang sangat bagus di lokasi tersebut. Ukurannya yang besar dan warna yang hijau gelap menunjukkan betapa sehat bibit itu tumbuh di lingkungannya yang baru. Petani yang sedang mengembangkan rumput laut jenis yang baru ini, berkomentar tentang rencana ke depan, bahwa ia akan menanam bibit jenis baru ini, jika sudah bisa memenuhi tali/ bentang yang ada sekarang dengan jenis ini.
Mengenai gangguan, sejauh ini tidak ada keluhan, kecuali dengan adanya lumut yang melanda daerah tersebut seminggu sebelumnya. Hal ini baru kali ini terjadi di daerah tersebut, dan mungkin saja lumut ini lebih tergolong ‘rumput’ dari pada lumut. Karena gangguan ini, petani harus lebih dulu membersihkan rumput laut mereka sebelum dikeringkan.
Pengalaman baru mungkin tidak selalu menyenangkan, tapi untuk mereka yang berani mencoba, cuma ada ucapan: SUKSES!