
Jakarta, Pelita. Rumput laut merupakan komoditas potensial Indonesia yang produksinya terus meningkat dari tahun ke tahun. Tahun lalu Indonesia merupakan salah satu produsen rumput laut terbesar di dunia.
Sekjen Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Sjarief Widjaja mengatakan hal itu pada pembukaan FAO Regional Workshop Seaweed Culture, Handling, and Processing di Jakarta, Jumat (4/10).
Oleh karena itu, jelas dia, di masa depan budidaya rumput laut dan industri pengolahan akan berkembang di pasar. Hal ini akan menyerap lapangan kerja, meningkatkan pendapatan pelaku bisnis.
KKP memproyeksikan produksi rumput laut pada 2013 hanya 4 juta ton, turun dibanding tahun lalu sebesar 6,2 juta ton. Pemerintah mendorong budidaya dan industrialisasi rumput laut. Hal itu disebabkan permintaan dunia terhadap komoditas itu terus meningkat.
Pihaknya juga menjalin kerja sama dengan Food And Agriculture Organization (FAO) dalam kerja sama south to south untuk meningkatkan potensi komoditas tersebut.
Menurut Sjarief, rumput laut merupakan komoditas potensial Indonesia yang produksinya terus meningkat dari tahun ke tahun. Sebagai informasi, pada 2011 produksi rumput laut basah mencapai 5,3 juta ton. Pada 2012 naik menjadi 6,2 juta ton.
Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Saut P Hutagalung menambahkan, perubahan iklim yang menyebabkan turunya produksi rumput laut disebabkan dua faktor.
Pertama, ada gelombang besar yang menyebabkan produk rumput laut hanyut membuat produksi turun. Kedua, karena sering hujan sehingga banyak produksi rumput laut gagal akibat terkena penyakit sehingga drop dan gagal panen.
Akibat dua faktor anomali iklim tersebut menyebabkan produksi tahun ini diprediksi turun masih di bawah target. Tahun ini targetnya 7,5 juta ton. Turunnya prduksi rumput laut tidak di Indonesia saja, tetapi dunia juga di China dan Filipina.
Turunnya produksi di dunia, sementara permintaan tinggi menyebabkan harga rumput laut dunia naik. Permintaan dunia yang tetap tinggi di tengah produktivitas yang merosot menyebabkan harga rumput laut, terutama jenis Cottoni (bahan baku tepung rumput laut) melonjak, menjadi Rp14.000-15.000/kg, yang tadinya Rp9.000 atau 10.000/kg.
Untuk itu KKP telah menyiapkan rencana strategis, Program Industrialisasi Kelautan dan Perikanan. Program ini dilandasi prinsip ekonomi biru untuk membangun empat pilar program pembangunan perikanan yaitu pro-poor, pro-job, pro-growth kelautan nasional dan pro-lingkungan. (vin)