
Indonesia merupakan salah satu negara dengan potensi bisnis rumput laut yang besar. Namun, pengusaha dalam negeri kebanyakan memasarkan bahan baku, dan sedikit sekali produk turunan.
Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ALRI) mencatat 80 persen produksi rumput laut kering langsung diekspor. Ini membuat, secara nilai, ekspor rumput laut baru mendatangkan untung kecil.
Pengusaha dan pemerintah dinilai juga kurang mengeksplorasi potensi rumput laut yang terdiri dari ratusan jenis. Ketua ALRI Safari Aziz menyatakan baru tiga jenis rumput laut yang dibudidayakan di Tanah Air.
"Ada 521 jenis rumput laut di Indonesia, yang kita budidayakan baru tiga jenis. Kita baru kembangkan gracilaria untuk tambak, lalu euchema cottoni dan euchema spinosum di air asin, yang (jenis) lain belum berkembang karena kita belum tahu teknologinya," ungkapnya saat ditemui di Menara Kadin, Jakarta, Senin (15/4).
Belum maksimalnya pengelolaan rumput laut membuat kontribusinya terhadap penerimaan negara juga minim. Saat ini di seluruh dunia, nilai perdagangan rumput laut dalam setahun sudah mencapai USD 70 miliar. Di Indonesia bisnis yang dirintis sejak 1982 ini baru mendatangkan laba kotor USD 200 juta tahun lalu.
"Masih kecil, di saat orang bicara miliar dalam bisnis rumput laut, kita masih ratusan juta," cetusnya.
Pengusaha-pengusaha ALRI saat ini sedang mengupayakan agar tercipta permintaan rumput laut dalam negeri yang didukung pemerintah. Komoditas yang banyak dikembangkan di Tual, Maluku ini lebih banyak dimanfaatkan di luar negeri.
Aziz menyangka masyarakat tidak banyak mendengar informasi bahwa rumput laut bisa menjadi bahan penolong serbaguna, dari pengenyal roti sampai pengental susu. "Ekstrak rumput laut memang lebih banyak digunakan di luar negeri. Yang kita tahu (di Indonesia) hanya dimakan mentah atau jadi bahan agar-agar. Kita pengenyal bakso malah pakai boraks," tuturnya.
Produksi rumput laut nasional pada 2012 159.000 ton, ALRI berharap jumlah itu bisa meningkat jadi 169.000 ton akhir tahun nanti.