
Rumput laut sebagai salah satu bahan baku industri makanan, farmasi, kosmetik, pakan ternak dan pupuk organik belum ditangani secara optimal. Meski telah menghasilkan beragam manfaat, penggalian manfaat rumput laut hingga kini terus dilakukan di berbagai negara, sejalan menguatnya gerakan back to nature. Penggunaan unsur-unsur bioaktif rumput laut ini memang lebih banyak ditujukan untuk mengganti penggunaan bahan baku kimia sintetis yang membahayakan manusia dan lingkungan hidup.
Indonesia dengan puluhan ribu pulau dan perairannya yang begitu luas-meliputi dua pertiga luas wilayahnya atau 5,8 juta km persegi, memiliki potensi yang sangat besar untuk pengembangan industri rumput laut. Beberapa pulau kecil di Maumere, Larantuka, Bali, Lombok, Maluku, Sulawesi Selatan, Tenggara dan Utara telah banyak dibudidayakan rumput laut. Teluk yang airnya tenang, relatif dangkal, bersuhu panas, atau sedikit hari hujan, adalah daerah yang paling sesuai untuk budidaya rumput laut. Dalam hal ini kawasan timur Indonesia merupakan daerah yang memiliki potensi rumput laut terbesar.
Budidaya Rumput Laut
Selama ini petani rumput laut membudidayakan Eucheuma (
E. spinosum dan
E. cottonii), Glacilaria, dan Sargassum. Beberapa petani masih melakukan budidaya tradisional dan belum melakukan pertanian intensif, misalnya memakai bibit dari alam dan belum berusaha membuat bibit unggul dari bank bibit. Hal tersebut tidak dapat meningkatkan hasil rumput laut. Pengenalan bibit unggul dan pemakaian bibit sekali tanam yang diproduksi bank bibit akan meningkatkan produktivitas dan peluang usaha bagi petani rumput laut Indonesia.
Budidaya rumput laut mudah dilakukan dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir pantai. Masa tanam sampai panen hanya membutuhkan waktu 45 – 60 hari. Biaya budidaya rumput laut juga tidak terlalu tinggi Untuk budidaya E.cottonii dan Gracilaria dibutuhkan modal usaha 10 – 15 juta rupiah per hektar. Budidaya intensif kedua jenis rumput laut ini dapat memberikan keuntungan 40 – 50 % dari modal usaha untuk satu kali musim tanam.
Pasca Panen dan Pengolahan
Industri pengolahan rumput laut menjadi bahan setengah jadi apalagi bahan jadi belum banyak dilakukan di Indonesia. Sebagian besar produksi rumput laut di ekspor sebagai bahan mentah atau rumput laut kering. Padahal bila rumput laut diolah lebih lanjut dapat memberi nilai tambah beberapa kali lipat. Sebagai contoh pengolahan rumput laut yaitu
E. cottonii menjadi karaginan akan meningkatkan nilai tambah rumput laut sekitar 20 hingga 30 kali lipat. Penjualan rumput laut kering 0,5 dollar AS/kg. Namun, dalam bentuk SRC (semi refined carrageenan) 6 dollar AS/kg dan menjadi 10 dollar AS/kg dalam bentuk jadi sebagai bubuk karaginan.
Nilai hasil olahan rumput laut akan semakin tinggi jika dapat memenuhi standar industri makanan (food grade standard).
Hal inilah yang membuat Indonesia menjadi pihak yang tidak diuntungkan dalam industri rumput laut dunia. Sebagai supplier atau pengekspor rumput laut kering, Indonesia tidak mendapatkan banyak keuntungan dari industri rumput laut. Sebagai contoh, Philipina negara pengimpor rumput laut Indonesia, yang areal budi dayanya jauh di bawah Indonesia, bisa mengekspor produk olahan rumput laut sebesar 700 juta dollar AS per tahun. Sementara itu, Indonesia hanya mendapatkan sekitar 130 juta dollar AS saja.
Hal tersebut diatas diperkuat dengan hasil survey ekspor rumput laut dari Indonesia dan Philipina yang dilakukan oleh SEAPLANT NETWORK untuk periode tahun 2000 – 2004. Hasil survey menunjukkan jumlah ekspor rumput laut kering dari Indonesia meningkat setiap tahunnya, tetapi tidak diimbangi dengan peningkatan hasil olahan atau ekspor ekstrak rumput laut. Berbeda dengan industri rumput laut Philipina, jumpal ekspor rumput laut kering cenderung stabil dan ekspor ekstrak rumput laut terus meningkat setiap tahunnya, kecuali tahun 2001 terjadi penurunan ekspor rumput laut kering karena terjadi badai taifun yang merusakkan industri rumput laut Philipina.
Kebutuhan Industri
Kebutuhan rumput laut kering dan hasil olahan atau ekstrak rumput laut terus mengalami peningkatan. Jumlah ekspor rumput laut kering Indonesia periode tahun 2000 - 2004 mengalami peningkatan 100% dari 25.000 ton menjadi 50.000 ton, sedangkan jumlah ekspor ekstrak rumput laut Philipina pada periode tahun yang sama meningkat dari 50.000 ton menjadi 60.000 ton.
Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan terjadi kenaikan permintaan rumput laut kering sebesar 5.000 ton pertahun dan ekstrak rumput laut sebesar 2.000 ton pertahun. Hal tersebut disebabkan beberapa industri di dunia, terutama di Cina telah mengembangkan produk baru dengan memakai bahan baku hasil olahan rumput laut.
Beberapa pengusaha Indonesia telah mengadakan kerjasama dengan pembeli dari luar, tetapi tetap saja tidak bisa memenuhi order. Kendala utama yang mereka hadapi adalah kapasitas, kontinyuitas dan kualitas. Sebagai contoh seorang pengusaha di Situbondo, yang selama ini bergerak dalam industri perikanan mulai berekspansi ke rumput laut karena rekanan bisnisnya di China meminta pasokan hasil olahan rumput laut yang berupa Alkali Treated Cottonii (ATC) sebesar 5.000 ton perbulan. Munculnya produk chicken nugget and fancy bird feed di Indonesia juga sangat menggembirakan pelaku industri rumput laut. Dari kedua produk tersebut, perusahaan poultry membutuhkan 1.000 ton rumput laut kering perbulan.
Hasil survey pasar SEAPLANT NETWORK tahun 2000 - 2004 menunjukkan kebutuhan industri akan hasil olahan rumput laut terus meningkat setiap tahunnya. Kebutuhan hasil olahan rumput laut banyak diserap oleh industry dairy atau pabrik susu sebesar 30% dan beberapa industri lain seperti petfood (pakan hewan piaraan) 25%, water gel (agar-agar) 20%, meat and poultry (pengolahan daging dan unggas) 15%, water viscosity (pasta atau pengental) 5% dan sisanya hasil olahan rumput laut diserap kebutuhan industri lainnya.
Potensi Industri Rumput Laut di Kawasan Timur Indonesia
Berdasarkan hal tersebut, SEAPLANT NETWORK telah mengembangkan kerjasama dan melakukan pembinaan petani rumput laut di Kawasan Timur Indonesia. Permasalahan kapasitas, kontinyuitas dan kualitas sedikit demi sedikit mulai dapat dipecahkan dan produktivitas petani terus meningkat sejalan dengan peningkatan harga rumput laut. Beberapa kelompok tani binaan yang terdiri dari 20 - 40 orang petani telah dapat menghasilkan 100 ton rumput laut kering perbulan.
Pengenalan bibit unggul juga telah membuahkan hasil dengan peningkatan produktivitas petani, demikian juga kerjasama dengan local dan international buyer. Saat ini produksi rumput laut petani di Maumere dan Bali mencapai 2.000 ton rumput laut kering perbulan sedangkan di Sulawesi sekitar 1.000 ton rumput laut kering perbulan. SEAPLANT NETWORK memerlukan partner dalam bidang budidaya dan pengolahan rumput laut.
Luas area penanaman masih tersebar luas di pesisir pantai dan perairan Indonesia. Sejalan dengan perluasan area penanaman, mulai tahun 2007 akan dilakukan pengolahan rumput laut dengan sistem tolling manufacturing. Sistem ini memberikan keuntungan bagi setiap pelaku usaha Pengusaha yang mempunyai fasilitas pengolahan mendapatkan order and processing fee, sedangkan petani rumput laut akan mendapat nilai tambah karena petani langsung menjual produk olahan rumput laut kepada local dan international buyer yang difasilitasi oleh pengusaha dan SEAPLANT NETWORK.
Jika sistem ini berjalan dengan baik, langkah selanjutnya adalah penerapan value adding technology dibidang pengolahan rumput laut dengan modifikasi proses pengolahan rumput laut. Modifikasi proses dapat mereduksi biaya operasi dengan penerapan teknologi baru dan optimalisasi proses yang bersifat low water consumption and energy sehingga bisa mendekatkan processing facility ke area budidaya.
SEAPLANT NETWORK telah melakukaan survey lokasi untuk pengoperasan unit pengolahan atau pabrik mini di dekat lokasi budidaya di daerah Sulawesi Selatan. Hal tersebut dapat mereduksi 20 – 30% operational cost, terutama terkait dengan transportasi bahan baku dari lokasi penanaman ke tempat pengolahan rumput laut. Saat ini lokasi pengolahan rumput laut berada di pusat industri atau daerah perkotaan seperti Surabaya dan Jakarta. Investor dan pengusaha tidak berani mendirikan tempat pengolahan rumput laut atau processing facility di sekitar area budidaya karena kendala sumber energi dan air.
Dengan value adding technology yang sedang dikembangkan oleh SEAPLANT NETWORK, hal tersebut bukan lagi jadi kendala tetapi menjadi peluang industri rumput laut Indonesia.