
Mimpi itu muncul dari sebuah rumah yang jauh dari keriuhan, di tepi sawah. Di pojok Desa Munceng itulah Sartono menghabiskan malamnya dengan ritual yang tak biasa. Petani yang Cuma punya sawah setengah hektare itu tiap malam duduk memelototi layar komputer. Wajahnya grogi. Tapi impian besar sedang menggedor petani berusia 43 tahun itu: ingin hidup sejahtera dengan secuil sawahnya itu.
Di gedung tua itulah dia berkenalan dengan komputer yang menghubungkannya ke berbagai pusat ilmu di seluruh dunia. Petani kampung itu belajar menggunakan internet. Di kampungnya memang berdiri telecenter (semacam warnet) atas bantuan Bappenas dan UNDP, badan PBB yang mengurusi pembangunan.
“Saya belajar dua jam setiap malam. Mata saya sakit jika terlalu lama,” kata lelaki lulusan SMEA itu kepada Tempo. Saat penduduk Munceng lainnya terlelap dalam buaian irama gamelan atau dangdut yang mengalir dari radio atau televisi, pikiran Sartono melayang-layang mencari ilmu baru: bagaimana menggemukkan sapi-sapinya. Sapinya sudah ia beri ampas tahu tapi tetap lambat gemuk.
Jawaban dari pertanyaan itu dia temukan dari kotak cerdas yang tiap malam dia geluti itu. Dia menemukan teknik membuat pil ajaib penggemuk sapi setelah tersasar di situs peternakan sapi dari Australia (http://www.genaust.com.au). Dengan menggunakan Google dan dibantu Suwondo, petani itu akhirnya menemukan ramuan pil vitamin penggemuk sapi dari situs Badan Tenaga Atom Nasional atau Batan (http://www.batan.go.id/2001/pil_sapi.html). “Awalnya, ngeri juga saat melongok situs yang menangani tenaga atom di Indonesia itu. “Jangan-jangan sya nanti dikiri hendak membuat bom,” tutur petani yang juga pembuat tahu itu.
Berkat internet, kini sapinya bisa gemuk dalam waktu satu setengah bulan dan bisa cepat dijual ke para pedagang yang mengirim sapi ke Jakarta. Lelaki yang sudah sembilan tahun beternak sapi itu kini juga bisa menjual pil vitamin untuk sapi. Sawahnya yang Cuma sepetak kin produksinya juga meningkat setengah ton dari biasanya.
Komputer telah mendatangkan sejumput keajaiban bagi Muneng, desa di Madiun, Jawa Timur, yang tak terkenal dan sepertiga penduduknya dibalut kemiskinan. Selain Sartono, Sukad adlaah yang merasakan manfaat hadirnya Telecenter Madurasa di Muneng. Dengan bantuan pengurus telecenter dia menggali teknik menanam melon. Dia mencoba teknik baru itu di sepetak lahan, dan sepetak sisanya dengan teknik lama. Setelah 37 hari ternyata ilmu barunya membuat melonnya lebih besar dan lebih manis. “Luar biasa sekali informasi seperti ini tersedia di komputer,” katanya.
Keajaiban di Desa Muneng itu datang sejak Bappenas dan UNDP membangun telecenter di sana. Ada lima komputer, satu pemindai, dan printer digedung tua yang dilengkapi pendingin itu. Hebatnya, telecenter ini juga dilengkapi proyektor digital serta laptop untuk penyuluhan dan pelatihan.
Telecenter ini memang bukan seperti warung internet (warnet), yang Cuma melulu jualan akses internet. “Kami memfokuskan membangun manusai. Akses internet hanya alat,” Kata Dinar Pandan Sari, petugas dari Bappenas UNDP yang menangani bidang kerjasama pemberantasan kemiskinan.
Tujuan program ini memang memerangi “desa merah” (desa yang menurut Badan Pusat Statistik memiliki penduduk miskin lebih dari 30% lewat pengenalan komputer. Dalam setahun telecenter ini digelontor dana operasional Rp 250 juta sampai Rp 300 juta untuk menggerakkan berbagai kegiatan yang mayoritas justru diluar urusan internet. Contohnya Sukad, yang membikin percobaan dengan melonnya.
Karena itulah program kegiatan telecenter ini mirip sebuah kantor penyuluhan. Longoklah Telecenter Madurasa di Muneng. Di dindingnya terpasang berbagai program kelompok tani yang sedang menanam melon, kelompok arisan PKK, pengajian, hingga kelompok pemuda yang membuka jasa pembuatan desain undangan. Kantor itu digerakkan oleh tiga orang: manager telecenter, penggerak masyarakat, dan ahli komputer.
Program ini dimulai tahun lalu dan saat ini, menurut Dinar, sudah berdiri di tujuh tempat: Telecenter e-pabelan (di Magelang), Telecenter Madurasa di Muneng (Madiun), Telecenter Semeru di Desa Kertosari (Lumajang, Jawa Timur), Telecenter Lalupu di Kendari (Sulawesi Tenggara), Telecenter Gorontalo di Desa Tuladenggi (Gorontalo), dan Telecenter di Papua.
Setiap telecenter biasanya memiliki program unik. Telecenter Semeru (Lumajang), misalnya, getol memasarkan hasil panen para petani lewat internet. Mereka membuat toko maya di internet (http://www.indonetworks.co.id/semerutelecenter). Ini semacam toko kelontong di kampung yang menjual apa saja, mulai dari keripik pisang, jahe, perhiasan dari perak, hingga kodok jenis bullfrog. Telecenter menerapkan sistem bagi hasil untuk toko-toko itu. “Mereka berhasil menjual kodok ke Cina dan perhiasan ke Malaysia,” kata Dinar dengan mata berbinar-binar.
Kesuksesan telecenter juga hadir di Desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. Kepada Tempo, Fuad Mutaqin menunjukkan karyanya setelah belajar internet. “Itu kebun semangka seluas 1.700 meter,” ujuar petani itu bangga. Di kebun yang dikelola 10 petani itu, mereka melakukan percobaan pada semangka tanpa biji dengan tiga perlakuan: ada yang mendapatkan pupuk kimia, pupuk organik, dan campuran keduanya.
Di Pabelan, telecenter ini juga digunakan untuk pelatihan bahasa Inggris, bekerjasama dengan Regional English Language Office Kedutaan Besar Amerika Serikat. Santri-santri dan ustad di Pondok Pesantren Pabelan juga memanfaatkan “warnet” ini. Bahkan salah satu guru di Pabelan, Muhammad Chotim, berhasil menjuarai kompetisi nasional teknologi informasi yang diadakan oleh Microsoft. Pemuda berusia 19 tahun yang ke mana-mana gemar bersarung itu mengalahkan 150 peserta lainnya untuk ketegori kreasi cakram digital (CD). Ia membikin model pengajaran bahasa Arab dengan menggunakan Microsoft Power Point