
Setelah Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ditetapkan sebagai sentra pengembangan rumput laut oleh Pemerintah Indonesia karena dapat memenuhi 40% kebutuhan nasional, maka beberapa kabupaten di NTT termasuk Sumba Timur berlomba-lomba untuk membudidayakan rumput laut tersebut. Keberhasilan kegiatan budidaya sangat ditentukan oleh faktor lingkungan, terutama kondisi perairannya, baik itu kondisi fisis, biologis, maupun kimiawi. Oleh karena itu, sebelum dilakukan kegiatan budidaya terlebih dahulu perlu dilakukan pemilihan lokasi yang tepat.
Sebagai kajian awal, digunakan delapan parameter untuk pengukuran, yaitu dua parameter yang diperoleh dari data citra satelit : klorofil-a dan TSM, lima parameter yang diperoleh dari hasil pengukuran dan pengamatan lapangan di lokasi penelitian: kadar nitrat, fosfat, salinitas, tingkat kecerahan air dan bottom substrate, serta satu parameter yang berasal dari data sekunder yaitu kedalaman perairan.
Penentuan lokasi yang sesuai untuk kegiatan budidaya dilakukan dengan menggunakan aplikasi Sistem Informasi Geografis yaitu dengan analisis tumpang susun (overlay) terhadap semua data yang sebelumnya telah diberi bobot dan scoring berdasarkan kriteria kesesuaian kondisi perairan untuk budidaya rumput laut. Semakin tinggi score yang diperoleh, akan semakin sesuai pula daerah tersebut untuk kegiatan budidaya rumput laut.
Hasil analisis menunjukkan bahwa karena kadar nutrient (nitrat dan fosfat) yang rendah serta kecilnya area kedalaman yang sesuai kriteria kesesuaian untuk budidaya menyebabkan luasan zona potensi untuk pengembangan budidaya rumput laut di Desa Kaliuda, Kabupaten Sumba Timur terletak pada pesisir pantai dengan luasan sekitar 4,79 km2 atau 24,69% dari total 19,41 km2 luasan lokasi penelitian. Dengan daerah potensial budidaya rumput laut yang tidak terlalu luas tersebut, maka pengembangan pola budidaya yang ramah lingkungan wajib diterapkan sehingga kegiatan budidaya dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Penentuan kawasan untuk pengembangan budidaya rumput laut dengan mempertimbangkan faktor-faktor lingkungan, terutama yang dapat dipantau dengan menggunakan satelit penginderaan jauh, diharapkan mampu memberikan informasi awal bagi para pengambil keputusan baik di pusat maupun di daerah dalam penataan kawasan di wilayah perairannya. Tentu saja, karena sifatnya yang masih merupakan informasi awal, maka harus dilengkapi dengan kajian lebih lanjut agar informasi yang disampaikan dapat lebih lengkap dan akurat.