Wakil Wali Kota Ternate Arifin Djafar, kepada Berita Daerah di Ternate, Selasa (23/04), mengatakan, pabrik rumput laut berkapasitas 1.000 ton per bulan tersebut kini sedang dalam tahap penyelesaian akhir dan ditargetkan mulai beroperasi pada awal Mei 2013.
Adanya pabrik itu diharapkan akan meningkatkan nilai tambah produksi rumput laut di Malut, karena nantinya sudah bisa dipasarkan dalam bentuk olahan, selain itu juga diharapkan menciptakan stabilitas harga rumput laut di daerah ini.
Menurut Arifin, harga rumput laut di Malut selama ini sering dimainkan para pengusaha pengumpul. Petani rumput laut tak berdaya menghadapi permainan harga itu, karena tidak ada pihak lain yang membeli dengan harga memadai.
Namun, adanya pabrik rumput laut tersebut, petani rumput laut tidak perlu khwatir menghadapi permainan harga yang dilakukan pengusaha pengumpul, karena mereka bisa langsung menjualnya ke pabrik dengan harga yang standar.
"Adanya pabrik rumput laut tersebut akan memotivasi masyarakat pesisir di Ternate dan daerah lainnya di Malut untuk mengembangkan budi daya rumput laut, karena tidak akan lagi mengalami kesulitan pemasaran," kata Arifin.
Untuk mengoptimalkan operasional pabrik rumput laut tersebut, Pemkot Ternate juga akan menjalin kerja sama dengan pemkab lainnya di Malut yang selama ini menjadi sentra pengembangan produksi rumput laut, seperti Halmahera Selatan dan Kepulauan Sula.
Kerja sama itu, kata Arifin, diarahkan pada suplai bahan baku rumput laut ke pabrik rumput laut di Ternate, mengingat usaha budi daya rumput laut di Ternate belum banyak dilirik masyarakat setempat, walaupun potensinya cukup besar.
Kementerian Perindustrian memberikan bantuan pabrik rumput laut di Ternate untuk mendukung kebijakkan Pemprov Malut yang selama ini menjadikan rumput laut sebagai salah satu komoditas unggulan di sektor kelautan dan perikanan. redaksi@margind.com