
Gagal panen pada musim tanam tahun 2004/2005 lalu yang terjadi di Lembata khususnya di kecamatan Ile ape telah mengalihkan mata pencaharian masyarakat beberapa desa di kecamatan Ille ape termasuk desa Wakat Ehak (Palilolon) dari bertani di kebun/ladang ke kebun di laut yaitu usaha rumput laut.
Siapapun yang mengenal pulau Lembata, salah satu pulau di propinsi NTT, tentu juga mengenal salah satu kecamatannya, yaitu kecamatan Ile Ape. Ile Ape terkenal selain karena gunung apinya yang selalu mengeluarkan belerang setiap hari, Ile Ape juga terkenal oleh tradisi makan kacang setiap tahun, dan daerah yang selalu kekurangan air bersih.
Dua tahun yang belakangan ini, media massa lokal maupun nasional ramai memberitakan tentang gagal panen. Salah satu pemicunya adalah minimnya curah hujan, padahal kondisi tersebut sesungguhnya bukan hal baru. Mereka sudah terbiasa dengan keadaan kurang hujan. Karena itu, orang Ile Ape sendiri sering mempelesetkan bahwa hujan di Ile Ape itu hanya 2 kali, yaitu hujan pertama dan hujan terakhir. Dengan kondisi curah hujan demikian, masyarakat pertanian lebih dominan menanam kacang-kacangan dan sebagian kecil jagung lokal.
Akan tetapi, pada panen tahun 2004/2005 sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Hasil kebun gagal total karena curah hujan sangat sedikit dan tidak menentu.
Menanggapi kondisi gagal panen ini, pihak Pemda kabupaten Lembata dan beberapa LSM memberikan bantuan, baik yang bersifat emergensi berupa beras dan sarimie, juga bantuan jangka menengah berupa perlengkapan-perlengkapan budidaya rumput laut (tali nilon, tali rafia, pelampung, dll) untuk alternatif mencari nafkah yaitu budidaya rumput laut. Maka penduduk di pesisir Ile Ape mulai ramai mencoba menanam rumput laut. Pada masa tersebut, rumput laut mulai diminati lagi oleh masyarakat pesisir, terutama di Ile Ape. Selanjutnya, rumput laut menjadi salah satu alternatif utama mata pencaharian yang cocok untuk masyarakat pesisir seperti Ile Ape.
Salah satu desa yang saat ini berhasil mengembangkan rumput laut adalah desa Wakat Ehak (Palilolon). Desa dengan 55 KK ini sebelumnya mempunyai mata pencaharian petani ladang dan nelayan. Akan tetapi, setelah mencoba usaha rumput laut ternyata hasilnya sangat baik dan sekarang 100% masyarakat adalah petani rumput laut. Menurut Bapak Ali Sili, salah seorang petani rumput laut yang juga ketua BPD Palilolon bahwa mereka tidak akan meninggalkan rumput laut karena rumput lautlah yang menghidupi mereka. ‘Kami mau harap dapat doi (uang) dari mana lagi untuk biaya hidup setiap hari kalau bukan dari rumput laut !’ Karena itu kami tidak akan lepas (tinggalkan) rumput laut, tegas pak Ali.
Sesungguhnya, rumput laut telah mengubah hidup orang-orang di Palilolon dan membawa harapan baru bagi mereka. Perubahan mulai nampak, seperti adanya rumah baru yang dibangun dari uang hasil jual rumput laut, petani bisa membeli perahu motor, sepeda motor, dan lain-lain.
Setiap hari masyarakat desa Wakat Ehak selalu sibuk mengerjakan rumput laut terlebih pada saat pasang surut (meting mara istilah petani) karena mereka umumnya menggunakan metode tanam dasar sesuai kondisi lokasi mereka.
Kini produksi rumput laut di Palilolon bisa mencapai 10-15 ton/minggu. Dan tercatat sudah ada beberapa petani yang mempunyai penghasilan 4 juta lebih per bulannya dari rumput laut. Sungguh suatu perkembangan yang luar biasa.