
Satu pertanyaan yang selalu terlontarkan dalam pembicaraan antara CV. Sumber Rezeki sebagai exporter rumput laut dengan petani rumput laut di Bonto Ujung adalah mendapatkan harga yang lebih baik. Keinginan petani untuk dapat berdialog langsung dengan exporter telah terlaksanakan pada awal Oktober 2005 dengan tujuan untuk mengadakan kontrak kerjasama penjualan rumput laut jenis cottoni (Kappaphicus alvarezii). Walhasil dalam pertemuan yang di hadiri oleh Marcel Taher dan Ibu Noni dari CV. Sumber Rezeki telah bersepakat untuk mengadakan kontrak penjualan rumput laut dengan kualitas sebagai berikut: Moisture Content atau kadar air 35 %, impurity maksimal 3 % dan gel content 26 %, serta di jemur dengan cara gantung. Adapun jumlah kontrak yang disepakati adalah 200 ton kering rumput laut selama 7 bulan ke depan. Dengan kualitas tersebut disepakati harga minimum adalah Rp 4.700 diterima di Makassar dan apabila harga di pasaran naik, maka harganya juga dapat berubah mengikuti harga pasar namun jika harga rumput laut turun maka tetap bertahan di harga minimal Rp. 4.700,-.
Meskipun perjanjian ini telah disepakati oleh kedua belah pihak, antara petani dan exporter namun tidak serta merta petani mau melaksanakannya. Berbagai macam alasan yang selalu di ungkapkan oleh petani misalnya “suatu hal yang tidak mungkin dilakukan oleh petani jika rumput laut itu harus dilepas satu persatu dari bentangannya, berapa hari baru selesai?”. Sudah lima bulan berlalu sejak kesepakatan, tapi belum ada petani yang mau menjemur dengan cara gantung yang dilepas satu persatu dari bentangannya. Bahkan masih timbul keraguan diantara mereka apakah CV Sumber Rezeki mau membeli rumput laut tersebut dengan harga Rp 4700 bila dijemur dengan cara gantung.
Bahkan, pesan pendampingan teknis (TA) yang disampaikan ke petani seperti memperbesar bibit dan jemur gantung, masih menimbulkan berbagai tanggapan di antara petani. Paletteri Dg. Lewa dan Haji Said Dg. Sitaba mengungkapkan bahwa, “Saya tidak enak rasanya dengan PENSA, hampir setiap saat menyarankan kepada kita untuk memperbesar bibit dan jemur gantung namun belum dilaksanakan, biarlah saya coba meskipun nantinya saya jadi rugi”. Berawal dari keragu-raguan, Dg. Lewa dan petani lain mencoba untuk untuk meperbesar bibit. Meskipun dia sudah memahami TA yang telah diberikan kepadanya namun untuk menyelesaikan pekerjaannya sebagai petani rumput laut, Dg. Lewa harus menyewa orang lain untuk mengikat bibit. Kendala lain yang dihadapi Dg. Lewa adalah ketidakberanian pengikat bibitnya memperbesar bibit dengan alasan tidak biasa, boros, dan sedikit upah yang bisa di hasilkan.
Dg. Lewa tidak kehabisan akal untuk mencoba TA ini untuk memperbesar bibit. Karena dengan menyuruh saja pengikat bibit belum mau melaksanakan, maka Dg. Lewa mencoba menerapkan satu ide. Biaya upah ikat untuk satu bentang adalah Rp 1.000 dengan panjang 15 depa (±20 meter). Pada bulan sebelumnya, Dg. Lewa menerapkan upah ikat dihitung dari berat timbangan bibit dalam satu bentangan. Setiap satu kilogram bibit, maka upahnya adalah Rp. 100,-. Maka apabila dalam satu bentangan berat bibitntya adalah 18 kilogram maka upah ikatnya adalah 100 x 18 = Rp. 1.800,-. Dengan metode ini maka pengikat bibit tidak mengatakan banyak alasan lagi seperti yang terjadi sebelumnya. Sekarang, Dg. Lewa memberikan upah Rp. 1.500,- per bentangnya.
Pada bulan-bulan sebelumnya, apabila jumlah bibit dalam satu bentangan terlalu banyak, maka Dg. Lewa mengeluh kalau terlalu boros memakai bibit. Yang seharusnya bisa jadi 10 bentangan hanya menjadi 5 misalnya. Namun kali ini sudah menjadi kebalikannya. Dg. Lewa merasa kalau jumlah bibit dalam satu bentangan terlalu sedikit, dia tidak bersemangat menanamnya ke laut. Jumlah bibit dalam satu bentangan pada bulan-bulan sebelumnya hanya berkisar 5 kg saja, untuk saat ini sudah menjadi di kisaran diatas 15 kg.
Sementara untuk penjemuran gantung, Dg Lewa harus menambah biaya lagi. Menurut dia biaya pembuatan jemur gantung lebih murah dibandingkan dengan para-para. Sampai saat ini Dg. Lewa sudah melakukan penjualan langsung ke CV Sumber Rezeki bersama dengan petani di Bonto Ujung tepatnya di Kelompok Sinar Rezeki. Keraguan Paletteri Dg. Lewa bersama dengan petani lain dengan harga yang lebih baik bila memperbaiki kualitas sudah terjawab. Meskipun dia harus mengeluarkan tambahan biaya dalam meproduksi 1 ton lebih rumput laut kering dengan jemur gantung, namun meraka merasa masih jauh lebih untung. Untuk melepas rumput laut dari bentangannya Dg. Lewa haru mengeluarkan Rp 1.000,- per bentangannya. Menurut dia, jemur gantung lebih menguntungkan, selain perbandingan timbangan bila dikonversi dari basah menjadi kering. Bila dijemur dengan cara gantung biasanya mencapai 5 kg rumput laut basah menjadi 1 kg rumput laut kering. Selain itu menurut dia, bila dijemur gantung hanya membutuhkan dua hari penjemuran saja sedangkan bila menggunakan para-para membutuhkan 4-7hari.
Untuk jemur gantung ini dilakukan dengan cara yaitu :
1. Rumput laut yang baru dipanen dari laut di jemur langsung dengan bentangannya di tempat jemuran.
2. Setelah penjemuran berlangsung 24 jam atau satu hari satu malam, maka rumput laut dilepas dari tali ikatannya. Pada saat itu rumput laut masih dalam keadaan setengah kering. Hal ini dilakukan agar rumput laut lebih mudah lepas dari tali ikatannya.
3. Setelah dilepas dali tali ikatannya baru dujemur lagi di atas para-para. Apabila matahari bersinar terus maka hanya membutuhkan 12 saja.
Menurut Dg. Lewa rumput laut yang di panen saat ini bila dijemur dengan cara gantung maka dalam setiap bentangannya mampu menghasilkan 6-7 kg kering rumput laut. Sampai saat ini, Paletteri Dg. Lewa yang sudah berumur 55 tahun (lahir tanggal 5 Mei 1955) dan dengan dibantu dengan 3 orang anaknya akan memanen sekitar 700 bentangan lagi. Dan menurut dia semuanya akan dijemur dengan cara gantung, dia merasa bahwa dengan cara jemur gantung sangat menguntungkan dibandingkan dengan cara sebelumnya. Satu persatu anggota kelompok tani Sinar Rezeki Bonto Ujung mulai mengikuti cara Dg Lewa. Ayo Pak Tani bersegeralah gunakan bibit besar dan jemur gantung demi memenuhi kontrak penjualan rumput laut yang belum tersebut.
Selamat Berjuang.